KABAR tentang tindakan kekerasan pada anak masih saja bermunculan di media nasional sampai saat ini. Melihat kenyataan tersebut, sebenarnya apa yang menyebabkan kekerasan pada anak?
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), Prof. Dr. Fasli Jalal Ph.D, Sp.GK, menGatakan bahwa kondisi itu terjadi karena kebiasaan memukul sudah menjadi bagian yang lumrah dalam mendidik. (Baca: Anak Tumbuh Tinggi, Penuhi Gizi di Dua Tahun Pertama)
"Kekerasan pada anak bisa terjadi karena budaya kita di sini mendukung itu. orangtua berpandangan bahwa kekerasan fisik termasuk bagian perhatian dan mendidik anak. Jadi, mereka berpikir memarahi secara fisik sudah biasa," katanya saat bertandang ke redaksi Okezone di Gedung HighEnd, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, belum lama ini. (Baca: Usia Menikah Berpengaruh pada Kualitas Keluarga)
Fasli menambahkan bahwa paradigma seperti itu harus dihilangkan karena mendidik tidak selalu harus dengan cara memukul. Hal ini juga termasuk saat anak berada dalam ruang lingkup sekolah, entah hubungannya dengan guru atau murid dengan murid. (Baca: Waspadai saat Orang Dewasa Asal Peluk Anak)
"Tugas BKKBN yang sulit dalam memberantas kekerasan pada anak, saya kira mengubah stigma para orangtua bahwa mendidik tidak selalu harus marah-marah dan memukul," tandasnya. (Baca: Fenomena Pedofilia, Kepala BKKBN Sebut karena Kelengahan Orangtua)
"Kita boleh mendisiplinkan mereka, tapi dengan cara fisik. Bahkan, di sekolah saja saat ini sudah tidak boleh memarahi secara fisik, apakah itu dicubit atau dipukul. Sekarang sudah tidak mungkin lagi. Jika masih memukul, itu sudah termasuk sebagai kekerasan pada anak," tutupnya.
(Ainun Fika Muftiarini)