SEBUAH aset pariwisata yang unik, diminati wisatawan Nusantara juga mancanegara. Kondisi alam yang cukup menyenangkan dengan hawa sejuk, sungguh pas Air Terjun Kembar Batu Barae untuk lokasi petualangan.
Tatkala udara dingin mulai menyelimuti, bertualang justru bikin makin bersemangat dengan 'menaklukkan' keangkuhan tebing dan menjelajahi pesisiran Gunung Batu Barae. Masyarakat setempat menamakannya demikian, dalam bahasa Makassar berarti "kandang binatang yang terbuat dari batu", dalam hal ini historisnya berupa tempat pengkandangan seekor kerbau raksasa.
Lokasi Air Terjun Kembar Batu Bare ditunjang alam yang indah, terletak di Desa Barambang, Kecamatan Sinjai Borong. Dua air terjun ini dalam satu kawasan dan berdampingan, dengan jarak keduanya hanya 60 meter. Dengan ketinggian 40-45 meter dan ketebalan air terjun bagian atas 2-3 meter, debit airnya sama-sama mencapai sekira 4 meter.
Di tengah antara kedua air terjun ini terdapat "1.000 tangga" menuju lokasi kolam permandian dengan fasilitas gazebo dan Bendung Talud yang dapat mempertahankan aset pariwisata dan berlangsungnya kegiatan masyarakat tani dalam irigasi lahan di luar kawasan. Tak ketinggalan, sebuah villa wisata yang telah permanen berdiri dengan latar keindahan Air Terjun Kembar Batu Bare serta tatanan alami dan buatan yang telah menyatu dalam satu kawasan. Tak pelak, berwisata di lokasi ini dapat melepaskan penat dengan menikmati wisata alamnya.
Air terjun ini terletak pada ketinggian 800 mdpl dengan hawa yang sejuk bahkan cenderung dingin. Sehingga pada pagi dan sore hari, kawasan ini kadang-kadang tertutupi oleh kabut tebal. Di luar kawasan wisata ini dikelilingi oleh pegunungan dengan sumber daya pertanian dan perkebunan yang memadai sehingga dapat dijadikan wisata agro. Tak luput pula dengan tebing-tebing cadas dan deretan tebing kecil yang sangat terjangkau oleh para petualang, diindikasikan sebagai wisata alternatif atau kamping, seperti mountneering course dan outbond.
Namun, pengelolaan wisata alternatif tersebut sangat membutuhkan sentuhan pihak penyelenggara outbond, dengan bantuan, pengembangan wisata, serta navigasi alam menuju puncak Gunung Bawakaraeng. Di sisi lain, dalam pengembangan objek wisata agro, perkebunan markisa dan tembakau sangat mendominasi pertumbuhannya. Markisa yang telah diproduksi sebagai konsumerisasi masyarakat Sulawesai, dari sebuah proses tradisional minuman markisa membuahkan hasil dalam pemasarannya sehingga memotifasi para pengelola industri makanan dan minuman untuk mengelola lebih modern minuman markisa ini. Kini, wisatawan yang ingin membawa cinderamata dari kawasan air terjun ini, manisnya minuman markisa dengan sari yang masih kental, dari olahan tradisional maupun modern, dapat menjadi pilihan.
Tak lupa, bagi wisatawan menginap di vill wisata air terjun kembar ini, kuliner khas yang patut dicicipi adalah lemang atau beras ketan dalam bambu. Proses pengolahannya sangat tradisional dan sederhana, namun rasanya sangat memuaskan. Beras ketan atau masyarakat sering menamai sokko lemang ini sangat enak dinikmati dengan telur asin atau ikan bakar, dengan pauk lainnya seperti cobe-cobe’na ala boga lappa dan ikan kering ala Pulau Sembilan.
Sangatlah memuaskan menikmati suguhan alami kawasan wisata ini; mengagumi panorama alam sekaligus kulinernya. Panorama alam yang sejuk dan dingin. Tebing cadas dan Air Terjun Kembar BatuBarae dalam prospek pengembangan yang cukup menjanjikan, bukan hanya Air Terjun Sahara yang membuat kita terperangah akan keindahannya. Untuk menuju lokasi air terjun, cukup dengan kendaraan roda empat atau roda dua dengan jarak tempuh sekira 35 km dari pusat Kota Sinjai, Sulawesi Selatan.
(Fitri Yulianti)