JAKARTA - Demi menjaga ketahanan bangunan,
Museum Sejarah Jakarta alias Museum Fatahillah akan meminta pengunjung melepas alas kaki. Harapannya, lantai kayu bangunan tetap terjaga dengan baik.
Aturan melepas kaki saat masuk
Museum Fatahillah tengah menjadi pemikiran Enny Prihantini selaku Kepala Museum Sejarah Jakarta. Ia mengharapkan pengunjung dapat mencintai bangunan museum dan bersama-sama merawatnya dengan baik.
“Kalau melihat dari museum yang ada di Rusia, setiap pengunjung diberikan plastik untuk membungkus sepatu agar lantai kayu yang baru mereka pugar tetap terjaga dengan baik,” kata Enny, Kepala Museum Sejarah Jakarta, ketika ditemui Okezone, belum lama ini.
Lebih lanjut Enny memaparkan bahwa beberapa museum di luar negeri menerapkan aturan masuk bergiliran bagi para pengunjungnya, tidak bisa sekira 30-50 orang berada di dalam. Tentunya, hal tersebut akan membuat kondisi ruangan semakin tidak nyaman.
“Budaya antre juga akan kita coba terapkan. Jadi, pengunjung tidak umpel-umpelan di dalam nantinya,” tambah Enny.
Ide serupa berusaha ia terapkan di Museum Fatahillah. Namun, dia mengakui bahwa butuh waktu cukup lama, menyesuaikan dengan kebiasaan pengunjung yang mungkin memandang heran dengan kebijakan tersebut.
Museum Fatahillah atau yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia dulunya adalah sebuah Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan van Hoom. Bangunan ini terdiri dari bangunan utama dengan dua sayap di bagian barat dan timur serta ruang bawah tanah yang dijadikan penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974 gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.
(Fitri Yulianti)