JAKARTA - Sejak dibangun pada 1974, Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah pertama kalinya dipugar pada tahun ini.
Sejak dulu tata letaknya masih sama, seperti diakui Kepala Museum Sejarah Jakarta, Enni Prihantini. “Dari saya SD datang ke sini sampai sekarang menjadi Kepala Museum, tata letak kursi, perabotan, lukisan, dan yang lainnya masih saja belum berubah. Bagaimana mau menarik pengunjung?,” kata Enni saat wawancara eksklusif bersama Okezone di Jakarta, belum lama ini.
Dengan alasan inilah, Museum Fatahillah akhirnya dipugar, selain kondisi bangunan yang memang sudah sangat memperihatinkan, Enni mengaku ingin memberikan sentuhan baru pada museum ini.
“Selama ini, kalau habis mengunjungi museum, ya sudah, tidak dapat informasi apa-apa. Nah, saya tidak ingin yang seperti itu terjadi lagi di sini,” tambahnya.
Enni menambahkan, selama mengunjungi beberapa museum di belahan dunia, ia selalu mendapatkan hal-hal berbeda hingga ingin menerapkannya pada museum yang dikelola. Banyak perubahan diharapkan Enni dapat terjadi dalam pariwisata sejarah, khususnya museum.
“Sepertinya kita sudah banyak ketinggalan dari negara lain, di Jepang pertumbuhannya sangat cepat. Bahkan, di negara kecil seperti Singapura saja banyak hal unik ditawarkan pada museumnya. Kok kita yang sejarahnya besar tidak bisa seperti itu?,” tukas Enny.
Kekhawatiran inilah yang mendorong niatnya untuk memberikan sentuhan atau inovasi berbeda di Museum Fatahillah. Rencananya, museum dengan bangunan berusia sekira 350 tahun ini akan selesai pemugarannya pada Desember mendatang. Museum Fatahillah nantinya akan tampil lebih modern, seperti menggunakan teknologi layar sentuh untuk menjelaskan tampilan beberapa koleksinya.
(Fitri Yulianti)