JAKARTA - Taman Safari Indonesia (TSI), salah satu lembaga resmi konservasi satwa, menjadi pilihan saat wisatawan hendak melihat atraksi lumba-lumba. Selain menghibur, atraksi ini disebut dapat menjadi sarana edukasi bagi anak-anak mengenai mamalia laut.
"Ini bukan pertunjukan, tapi presentasi aktivitas yang sering dilakukan lumba-lumba di habitat aslinya," kata Irawan, staf edukasi TSI, ketika dihubungi Okezone, Rabu (6/2/2013).
Menurutnya, atraksi yang dipresentasikan TSI sebatas pada tiga aktivitas utama lumba-lumba di habitat aslinya di lautan lepas, seperti menangkap ikan, melompat, dan memainkan bola sebagai pengganti ikan. Atraksi-atraksi itu disebutnya tidak berbahaya bagi lumba-lumba.
Dia menambahkan, sebagai salah satu lembaga konservasi, TSI melakukan perlindungan dan pelestarian terhadap satwa cerdas tersebut. Bahkan, kelahiran beberapa lumba-lumba terjadi di kolam TSI, dengan kesehatan serta makanannya menjadi perhatian.
“Lumba-lumba itu pasti diberi makan, toh mereka tetap sehat (dalam konservasi). Logikanya, kalau manusia juga tidak diberi makan pasti terlihat lelah dan tak mau melakukan apapun. Begitu juga dengan lumba-lumba,” tandasnya.
Dia menegaskan, setelah lumba-lumba tidak lagi produktif, perawatan dan perlindungan tetap diberikan. Apalagi, ujarnya, sekelompok lumba-lumba tersebut sudah terbiasa dilayani.
“Kalau dikembalikan lagi ke habitatnya, malah bisa membahayakan mereka," tutupnya.
(Fitri Yulianti)