SUKABUMI - Balai Besar Taman Nasional Gunung Halimun Salak mengungkapkan bahwa Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan hutan hujan terluas yang masih tersisa di Pulau Jawa. Ini bisa menjadi penyumbang oksigen besar bagi Bumi serta mencegah pemanasan global (global warming).
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Halimun Salak Agus Priambudi mengatakan bahwa Gunung Halimun dan Gunung Salak berada di bawah naungan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sehingga, kata dia, saat ini lahannya diperluas dari 40 ribu hektare menjadi 113.357 hektare.
"Ini menjadikan TNGHS hutan hujan pegunungan yang terluas dan tersisa di Pulau Jawa; memiliki keanekaragaman hayati, habitat bagi hewan liar terancam punah," jelasnya kepada Okezone, Kamis (13/12/12).
Namun, lanjut Agus, kawasan tersebut menghadapi masalah akibat terjadinya degenerasi lahan dan disporasi di areal berluasan. Karena itu, lanjutnya, diperlukan kontribusi perusahaan atau masyarakat untuk turut aktif dalam program penanaman atau adopsi pohon.
"Rehabilitasi hutan, swadaya masyarakat, dan adopsi pohon. Ini penting bagi DKI dan Jabar. Areal perluasan, kesadaran konservasi, tercatat ada 13 adopter pohon hingga saat ini," ungkapnya.
Salah satu perusahaan yang berkomitmen terhadap gerakan lingkungan, yakni PT Amerta Indah Otsuka selaku produsen minuman isotonik POCARI SWEAT dan makanan bernutrisi SOYJOY. Dari 25 ribu pohon yang ditanam di TNGHS, delapan ribu pohon di antaranya merupakan pohon yang memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat yakni pohon aren.
"Wajib jaga lingkungan, untuk beri kontribusi lingkungan dan masyarakat, Pabrik kami ada karena masyarakat. Satu hati peduli lingkungan. Sebanyak 25.000 pohon ditanam di areal seluas 40 hektare di areal terdegradasi di kawasan TNGHS," ujar Presiden Direktur PT Amerta Indah Otsuka Prayugo Gunawan.
Program adopsi pohon tersebut dilakukan guna pelestarian dan perlindungan kawasan konservasi TNGHS, sebagai penyedia jasa lingkungan, antara lain mempertahankan kawasan tangkapan air dan penyedia oksigen serta penyedia keanekaragaman hayati. Kawasan TNGHS juga dikenal sebagai sumber pasokan air sekaligus kawasan resapan air yang dapat mengurangi potensi terjadinya banjir di kota-kota sekelilingnya, termasuk kawasan Jabodetabek.
“Program adopsi pohon ini merupakan upaya pro-aktif PT Amerta Indah Otsuka untuk menyelamatkan hutan Indonesia serta mengedukasi masyarakat akan pentingnya melestarikan lingkungan, terutama di daerah-daerah yang rawan bencana alam,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Sukabumi Sukmawijaya mengatakan pihaknya menyambut baik setiap perusahaan melalui program CSR untuk lebih peduli lingkungan. Apalagi, lanjutnya, TNGHS merupakan salah satu bank air di Jawa Barat.
"Saya mewakili Pemerintah Kabupaten Sukabumi menyambut baik program Adopsi Pohon dan Kampung Konservasi Otsuka yang digulirkan oleh PT Amerta Indah Otsuka. Ini jadi bank air dan sumber kehidupan manusia, salah satu baktinya, ikut serta lingkungan mengarahkan, menanam dan menghijaukan lahan-lahan kosong yang masih kritis," pungkas Sukmawijaya.
(Fitri Yulianti)