RAMDAN (7) yang tengah bermain dengan teman-temannya tiba-tiba saja mengajak salah satu temannya untuk berkelahi. Bahkan, bocah bertubuh “subur” itu menyebut dirinya jagoan.
Duh, kecil-kecil lagaknya sok jagoan. Bagaimana besar nanti? Mungkin itu pula yang terlintas dalam benak
moms jika menyaksikan kejadian serupa.
Masih lekat pula dalam ingatan kita tentang berita tawuran antarpelajar SMU yang merenggut nyawa siswa yang justru tidak terlibat sama sekali.
Tentu tak satupun orangtua yang menginginkan anak laki-lakinya tumbuh jadi “jagoan kesasar”
kan! Ikuti dulu ulasan Psikolog Agustina Hendriati M.Psi, sebagaimana dilansir tabloid
Mom & Kiddie berikut ini:
Peniru Ulung
Anak-anak mudah berlagak seperti jagoan karena adanya contoh yang diikutinya. Contoh tersebut bisa diperoleh dari berbagai sisi. Misalnya perilaku orangtua atau orang di sekelilingnya dan dari tayangan televisi.
Tidak bisa dipungkiri orangtua adalah orang yang sangat dipandang oleh anak-anaknya. Untuk itulah selalu ada peringatan dan kehati-hatian buat orangtua dalam melakukan suatu tindakan di depan anak-anaknya, agar si anak tidak salah memandang, menilai dan mengikutinya.
Namun sayangnya sadar atau tidak sadar, orangtua pernah menunjukkan sikap bahwa dirinya adalah pemarah, berani menggertak orang dan hal itu dilakukan di depan si anak. Sehingga akhirnya si anak pun tidak hanya memandang dan mengikuti hal yang baik saja dari perilaku orangtunya, tetapi juga hal yang tidak baik, seperti meniru untuk mengertak dan marah-marah pada teman-temannya atau orang lain.
“Tidak hanya orangtuanya saja, tetapi orang di sekelilingnya seperti Om, Kakak dan lainnya juga bisa memberi pengaruh yang sama,” tambah Agustina.
Pengaruh Media
Selain orangtua, anak menjadi sok
jagoan karena melihat dan meniru tayangan televisi. Saat ini memang banyak sekali tayangan televisi yang mengisahkan jagoan, yang digambarkan sebagai sosok yang pandai berkelahi, jadi pemenang serta mendapatkan pujian. Sehingga anak-anak pun akan memandang bahwa hal itu adalah sesuatu yang hebat. Dan sayangnya, terkadang mereka meniru hal tersebut justru dari tayangan yang notabene bergenre film kartun yang sebenarnya ditujukan untuk anak-anak.
Pemberani atau Kamuflase
Hal lain yang mendukung anak bersikap sok jagoan adalah tidak adanya larangan dari orangtua saat si anak melakukan tindakan tersebut. Bahkan orangtua justru sengaja membentuk anaknya untuk bersikap seperti itu dan memberi pujian meski dengan dalih agar si anak menjadi pemberani.
Faktor lain biasanya terjadi pada anak-anak yang berkecil hati dan punya kebutuhan untuk mendominasi, karena tidak punya ruang untuk menunjukkan ekspresi dirinya. Umumnya justru si anak adalah anak yang penakut namun mengklamufase dengan berani menggertak dan berlagak seperti seorang jagoan. Selain itu, anak bersikap seperti itu karena merasa dirinya tidak memiliki ruang untuk mendapat perhatian atau selalu diminta mengalah dengan adiknya.
(Tuty Ocktaviany)