Pulau Morotai menjadi saksi penting terjadinya pertempuran antara tentara sekutu dan Jepang pada Perang Dunia II. Salah satu pertempuran sengit yang terjadi di Morotai adalah Pertempuran Morotai pada 15 September 1944.
Pertempuran dimulai ketika tentara Amerika Serikat dan Australia mendarat di Morotai bagian barat daya. Basis di Morotai dibutuhkan untuk membebaskan Filipina.
Saat itu, tentara sekutu bersandar di sebuah pantai indah di pulau ini, yang kini mendapat nama Army Dock. Pantai pasir putih yang terletak sekira lima- 10 menit perjalanan mobil dari Kota Daruba, Morotai ini merupakan tempat dimana kapal-kapal perang sekutu bersandar.
Saat Okezone berkunjung ke pantai ini beberapa waktu lalu, masih terlihat sisa-sisa pertempuran yang hebat yang terjadi 68 tahun lalu. Terdapat bekas pelabuhan yang hancur, dan masih terlihat puing-puingnya.
Army Dock yang memanjang dari Desa L.O.C sampai Desa Juanga, merupakan markas militer Angkatan Darat dan Angkatan Laut sekutu dalam perang Pasifik di Morotai. Ditempat tersebut dibangun pula instalasi militer infantri, zeni tempur dan rumah sakit serta lima dermaga laut.
Pada 1944-1945, Army Dock dan Navy Base menjadi sangat penting karena sebagian besar aktivitas militer, administrasi, medis, dan kegiatan sosial lainnya dilaksanakan di tempat ini.
"Dulu, di sini ada jembatan terapung yang menghubungkan Morotai dan Pulau Zum-zum. Jembatan itu digunakan untuk mentransfer logistik para tentara perang," tutur Mukhlis, pemandu wisata kami saat itu.
Saat berada di Army Dock, Anda bagaikan berada di mesin waktu yang membawa kembali ke suasana Perang Dunia II. Suasana pantainya dengan puing-puing bekas pelabuhan militer dan pemandangan laut biru lepas menambah spektakuler suasana di Army Dock, seakan-akan Anda berada di tengah perang itu, saat tentara sekutu membobardir tentara Jepang hingga ke hutan-hutan Morotai.
Sayangnya, pantai Army Dock yang berpasir putih dan berlaut biru jernih harus terkotori dengan banyaknya sampah organik di pasirnya. Sampah-sampah ini merupakan dedaunan, sabut kelapa, dan sampah lain yang terbawa arus dari laut di sekitarnya.
Di sekitar Army Dock tidak terdapat adanya toko souvenir ataupun toko makanan. Suasananya yang sangat sepi, tetapi inilah yang membuat imajinasi Anda akan langsung terbawa ke masa lalu.
(Fitri Yulianti)