PADANG - Rumah Gadang (rumah adat Minangkabau) yang dibangun dua tahun lalu di Nagari Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, akan resmi dibuka pada 21-23 Juni 2012. Rumah ini akan diresmikan oleh Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyuang SM Taufik Thaib.
Menurut Pucuak Adat Nagari Talu, Tuanku Bosa XIV Fadlan Maalip, peresmian rumah gadang tersebut merupakan rangkaian ’Rang Talu Baralek Gadang’ (Masyarakat Talu Pesta Besar). ”Ini diawali penobatan gelar datuk kepada lima pemangku adat di Talu,” katanya pada Okezone, Selasa (17/6/2012). Dalam acara Baralek Gadang tersebut, raja-raja, sultan se-Nusantara akan diundang, juga keturunan kerajaan Malaysia, termasuk Bundo Kanduang adat Minangkabau.
Rumah Gadang memiliki ukuran 27 kali 10 meter, yang merupakan simbol kebesaran adat. Rumah ini juga dapat digunakan sebagai tempat pertemuan adat serta diskusi tentang nagari serta tempat belajar adat, budaya, dan ilmu pengetahuan.
Sebenarnya, Rumah Gadang ini dibangun setelah 55 tahun Nagari Talu tidak memiliki rumah gadang, sebab rumah gadang yang lama sudah dirobohkan pada 1954 akibat sudah lapuk. Rumah Gadang lama dibangun pada abad ke-XVII. Saat itu, kontruksi bangunan tidak memiliki paku hanya memakai pasak kayu.
Melihat kondisi Nagari Talu tidak memiliki Rumah Gadang, akhirnya Tuanku Bosa XIV membangun Rumah Gadang dua tahun silam atas bantuan dan swadaya dari masyarakat Talu. ”Kita prihatin adat semakin jauh dari anak nagari (masyarakat setempat), padahal adat sangat besar pengaruhnya pada pembentukan akhlak sehingga keberadaan rumah gadang ini diharapkan dapat menjadi solusinya,” ungkapnya.
Fadlan mengatakan, Rumah Gadang Talu dibangun untuk membangkitkan kembali semangat untuk mengenal dan menjalankan adat serta pendidikan, khususnya bagi para pemuda. Sementara, Objek wisata alam dan budaya diharapkan dapat menunjang perekonomian warga sekitar.
Rumah Gadang ini dibangun di atas tanah seluas 3 hektare. Jumlah tiang Rumah Gadang sebanyak 25 buah, pembangunan ini sesuai dengan sistem yang dianut di Nagari Talu, yaitu Datuk Katumanggungan, Lareh Nan Bonta, Rumah Gadang berbentuk Gajah Maaram, bagonjong (pucuk), tujuah (tujuh), baanjuang (anjungan) kiri dan kanan mengarah ke Selatan menghadap Gunung Talamau.
Sejarah Talu
Talu adalah ibukota Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, yang merupakan kabupaten tersendiri setelah dimekarkan dari Kabupaten induknya Pasaman. Talu sendiri dulunya merupakan Ibu Kota Kabupaten Pasaman sebelum digantikan Lubuk Sikaping.
Dulu, pejabat-pejabat Belanda yang bertugas di wilayah Pasaman selalu berdomisi di Talu yang beriklim sejuk. Daerah ini juga disibukkan Perang Padri (1821-1837) atau ketika mengurus kebun kelapa sawit mereka di tempat yang kini disebut Ophir (Kabupaten Pasaman Barat). Belanda juga menyewa daerah Tonang Talu untuk dijadikan onderneming (perkebunanan) teh kepada Tuanku Bosa sehingga Tuanku Bosa mampu membangun rumah sakit, pasar dan kantor adat.
Pada 1918 telah berdiri rumah sakit yang dipimpin oleh dr Saleh, ayah Chairul Saleh, Waperdam di era pemerintahan Presiden Soekarno. Sampai masuknya tentara Jepang 1942, di Talu selalu ada dokter yang melayani masyarakat.
Sekolah gubernemen pertama berdiri di Talu, yang kemudian menjadi Sekolah Rakyat I dan terletak di Jalan Bangkok Talu. School Opsineer pada akhir abad XIX sampai dengan awal abad XX adalah Biran, ayaha dari Prof. Dr. Biran, pembesar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Anwar, ayah dari Rosihan Anwar, jurnalis terkemuka Indonesia menjabat demang di Talu pada tahun 1930-an.
(Fitri Yulianti)