SETIAP pasangan tentu tidak mengharapkan hadirnya sebuah perceraian. Namun, saat perceraian menjadi pilihan, persiapan seharusnya dilakukan demi meminimalisir dampaknya.
Dalam membangun sebuah rumah tangga, hendaknya bukan hanya cinta yang dijadikan sebagai modal utama. Perlu adanya sikap saling mengerti dan rela berkorban di antara kedua pasangan. Namun demikian, kala sikap tersebut telah memudar, bukan tidak mungkin perpisahan menjadi jalan tengah dalam menyelesaikan masalah.
Salah satu pasangan yang belum lama ini memutuskan untuk mengakhiri rumah tangganya ialah Mike Lewis dan Tamara Bleszynski. Kabar perpisahan yang terbilang mendadak ini cukup menghebohkan. Pasalnya, setelah pernikahannya yang diam-diam, tidak terdengar kabar miring dalam pernikahan mereka.
Keputusan ini tentu disayangkan, mengingat usia pernikahan dan putranya, Kenzo Leon Bleszynski Lewis, yang masih terbilang sangat kecil.
“Sebelum memutuskan untuk bercerai, seharusnya pasangan suami-istri melakukan persiapan untuk menghadapinya. Persiapan ini paling tidak dilakukan enam bulan sebelumnya,” tutur Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si, saat dihubungi Okezone melalui telefon seluler, Kamis (21/6/2012).
Psikolog anak dan keluarga ini juga turut menyayangkan bahwa kebanyakan pasangan baru membahas semua ini setelah bercerai. Karena bukan tidak mungkin kelak, justru akan memicu timbulnya masalah baru yang lebih besar lagi.
Tujuan dilakukannya persiapan perceraian ini tidak lain dan tidak bukan demi meminimalisir dampak buruk dari perceraian. Namun demikian, psikolog yang akrab disapa Nina ini menekankan pentingnya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di antara suami-istri.
Pembicaraan mengenai perceraian ini penting dilakukan, bila perlu datangi orang-orang yang dapat dipercaya. “Tidak harus psikolog, bisa ke sahabat, orangtua, atau mertua. Siapa saja yang dirasa dapat memberi masukan yang baik,” katanya.
Diskusi ini sedianya membahas bagaimana ke depan si anak dapat bertemu dengan ayah dan ibunya. Perlu juga membahas bagaimana anaknya akan dibiayai. “Jika anaknya masih kecil, jangan hanya bahas lima tahun ke depan, tapi kalau bisa hingga 20 tahun mendatang,” jelasnya.
Bahkan, lanjut Nina, masalah sekolah anak juga harus jadi perhatian orangtua. “Mereka harus memutuskan ke depan bagaimana dan siapa yang akan bertanggung jawab dalam memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan si buah hati,” tutupnya. (ina)
(Tuty Ocktaviany)