KEIKUTSERTAAN desainer nonmuslim dalam perhelatan Islamic Fashion Festival ternyata memberikan warna baru dalam desain busana muslim. Rancangan segar mereka tak hanya memanjakan mata dengan olah kreativitas yang disuguhkan, tapi juga menakjubkan dengan kepatuhan pada kaidah dalam menciptakan busana muslim.
Berbeda dengan rancangan busana kontemporer, busana muslim memiliki pakem khusus dalam pengolahannya. Secara umum, rancangan busana muslim tidak diperkenankan memerlihatkan bentuk tubuh, tidak transparan, tidak terlalu pendek sehingga memperlihatkan aurat, serta tidak bergambar motif hewan.
Dari pakem tersebut, tak berarti para desainer muslim terbelenggu. Justru dengan pakem yang ada tersebut, kreativitas mereka kian terpacu untuk tetap menghadirkan busana muslim yang trendi, stylish, dan tetap berada dalam koridornya.
Hal itupun disadari betul oleh para desainer, tak terkecuali desainer nonmuslim yang mencoba menyuguhkan koleksi busana muslim pada perhelatan IFF 2011 yang digelar di Hotel Panghegar, Bandung pada 25-26 Juni 2011.
Meski tak memiliki latar mendesain busana muslim, kehadiran Milo dan Paul Ropp yang berasal dari Bali tersebut memberikan nuansa kesegaran dalam kreasi busana muslim.
"Saya sudah 40 tahun bermukim di negeri ini dan hampir 70 persen dari konsumen saya adalah muslim. Saya sudah terbiasa berinteraksi dengan mereka. Karenanya, meskipun ‘passion’ saya bukan busana muslim, saya banyak belajar dari klien untuk menciptakan busana muslim. Bagi saya, intinya semua wanita ingin tampil cantik. Khusus untuk busana muslim memang ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Dan saya pun mengikuti adat dan kebiasaan tersebut termasuk dalam busana muslim yang saya ciptakan," ujarnya.
Pada perhelatan IFF, Milo yang mengisi di hari pertama menyuguhkan tema “Embroidered Empire”. Milo mengetengahkan rancangan yang lebih terlihat ringan tanpa meninggalkan sisi elegan dan glamor. Permainan tabrak warna dalam busana terusan seperti sayap yang lebar di bagian bawah tangan coba disuguhkannya. Untuk menciptakan kemegahan, Milo mengombinasikan elemen motif bunga, hewan, serta “embroidery”.
Kesegaran kreativitas juga terasa pada rancangan Paul Ropp yang mengambil tema “Flower of the Moghul Gardens”. Sesuai dengan ciri khas desainnya yang light, flowing, colourfull dan sophisticated, Paul mempersembahkan koleksi yang sangat indah. Busana dengan aksen tumpuk-tumpuk pada material cotton dan silk yang diberikan aksen embroidery serta padanan warna-warna terang menjadikan busananya sangat segar.
Kedua desainer asal Bali tersebut sepertinya memang mengerti betul keinginan pasar yang tetap menginginkan busana muslim moderen namun tetap syar'i. Mereka pun sangat memenuhi kaidah yang ada dalam menciptakan busananya.
Uniknya, kedua desainer dari Pulau Dewata itu menyuguhkan kesegaran lewat tampilan kerudung yang tetap menutup aurat namun bisa ditampilkan lewat gaya berbeda seperti pemakaian capuchon. Tentunya, penggunaan tersebut diantisipasi dengan lapisan kerudung dalaman di lapis sebelumnya sehingga bagian leher dan rambut tidak tampak.
Kesegaran ini memang menjadi bagian dari diselenggarakannya IFF. Bahwa busana muslim nantinya akan memasyarakat, itu adalah sebuah misi utama. "Kami memang bersikap terbuka. Karenanya, kami pun berkongsi dengan desainer nonmuslim dalam perhelatan IFF," ujar Dato' Raja Rezza Shah selaku penggagas IFF.
Senada dengan Dato' Rezza, Iva Latifah selaku Ketua IPBM pun mengamini hal tersebut. "Dato' memang menggandeng desainer nonmuslim agar masyarakat kagum dengan keindahan desain yang dihadirkan serta membuat busana muslim memasyarakat," katanya. (tty)
(Fitri Yulianti)