Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kemegahan India dalam Islamic Fashion Festival

Dwi Indah Nurcahyani , Jurnalis-Minggu, 26 Juni 2011 |11:04 WIB
Kemegahan India dalam <i>Islamic Fashion Festival</i>
Koleksi Radzuan Radziwill. (Foto: Indah Nurcahyani)
A
A
A

NEGERI Taj Mahal selalu memiliki pesona unik untuk diulik. Tak terkecuali, keberadaan salah satu dinasti yang sempat berjaya di abad ke-17. Kemegahan tersebut yang tertuang indah dalam rancangan busana muslim pada perhelatan Islamic Fashion Festival.

India tak hanya khas dengan kain sarinya, namun juga dengan keindahan sejarah budayanya. Tak heran, negerinya Sakhrul Khan tersebut membuahkan banyak inspirasi indah yang dapat diaplikasikan dalam mode.

Inspirasi itu kemudian menggugah Islamic Fashion Festival yang digagas oleh Dato' Raja Rezza Shah sejak tahun 2006 lalu untuk membuatnya jadi tema besar dalam show tahunannya.

Pada perhelatan kelima, IFF mengambil tema "Moghul Splendour". Moghul merupakan sebuah dinasti di India yang begitu agung di abad ke-17. Salah satu keindahan yang tercipta dari keberadaan dinasti tersebut adalah Taj Mahal. Nuansa itulah yang kemudian coba ditawarkan sebagai kesatuan tema ke-24 desainer yang turut serta dalam pergelaran bergengsi itu.

Di hari pertama, tujuh showcase yang terdiri dari empat desainer Indonesia, dua desainer asal Kuala Lumpur, dan satu desainer dari Singapura membuka parade fesyen yang dihelat di Kota Kembang untuk kali pertama.

Malam itu, parade busana mewah sangat terasa. Para desainer menuangkan inspirasi Moghul dalam potongan-potongan gamis dihiasi dengan taburan aksesori. Warna-warna eksklusif seperti turquoise, purple, magenta, hitam berpadu dengan warna tembaga banyak mendominasi.

Untuk menunjukkan kemegahan, para desainer umumnya mengedepankan pemakaian kombinasi warna. Desain itu seperti terlihat pada koleksi Iva Lativah yang mengusung tema "Moghul Twilight". Iva memerlihatkan keapikan busana muslim dalam potongan rompi serta gamis yang bermain dengan layering di bagian bawah.

Desainer Indonesia lainnya yang unjuk gigi adalah Herman Nuary. Terinspirasi dari keelokan paras Ratu Mumtaz Mahal, Heman menuangkan keindahan tersebut dalam desain yang elegan dan cantik.

Potongan atasan panjang yang memiliki bagian bawah seperti baby doll serta terusan panjang dengan kerah tinggi ditawarkan Herman, malam itu. Sisi eleganitas ditonjolkan Herman lewat aplikasi embroidery serta taburan kristal swarovski.

Selain Iva dan Herman, hari pertama juga menghadirkan desainer non-muslim yakni Milo dari Bali dan Sabeeba Bani serta Natasha Mirpuri (Mantra) asal Singapura.

Keikutsertaan kedua desainer tersebut memberi warna tersendiri bagi busana muslim secara umum. Milo yang mengusung tema Embroidered Empire mengetengahkan rancangan yang lebih terlihat ringan tanpa meninggalkan sisi elegan dan glamor.

Permainan tabrak warna dalam busana terusan seperti sayap yang lebar dibagian bawah tangan coba disuguhkannya. Untuk menciptakan kemegahan, Milo mengombinasikan elemen motif bunga serta embroidery.

Sementara Natasha Mirpuri dan Sabeena Bani Ahuja lewat label Mantra yang mengangkat tema Sapphire Desire mempersembahkan busana dalam potongan yang asimetris serta bermain lipit.

Sesuai dengan tema yang diangkat, Natasha dan Sabeena menyuguhkan keindahan koleksi dalam padanan warna biru dengan beragam gradasinya.

Secara keseluruhan, tampilan koleksi para desainer tersebut cukup variatif dalam soal kreativitas meski untuk bentuk model masih sangat terbatas yakni sebatas ghamis dan tunik yang dipadankan dengan celana dan legging.

Selain itu, yang menjadi catatan dalam fesyen muslim ini adalah keberadaan busana yang masih memerlihatkan ruang aurat yang tersingkap seperti leher, kaki dan tangan. Padahal, untuk mendesain busana muslim dibutuhkan pakem-pakem yang sesuai syariat.

"Busana muslim sebaiknya tidak transparan, tidak membentuk tubuh, tidak terlalu pendek, dan tidak menggunakan gambar hewan. Soal warna, semua desainer bebas berkreasi," ujar Iva Latifah, desainer sekaligus ketua IPBM.

Mungkin, inilah yang perlu ditegaskan kembali dalam parade IFF berikutnya sehingga peragaan busana berkelas internasional tersebut dapat menyampaikan misinya yakni membuat masyarakat dunia menerima dan bahkan mau menggunakan busana muslim.

Harapannya, tentu busana muslim yang dihadirkan bukan sekadar mengusung modernitas semata tapi memertahankan koridor serta pakem-pakemnya.

(Chaerunnisa)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement