Tes Kanker Serviks Tiga Tahun Sekali

SINDO, Jurnalis
Senin 23 Mei 2011 08:29 WIB
Tes kanker serviks tiga tahun sekali. (Foto: Getty Images)
Share :

TES skrining untuk mendeteksi kanker serviks tidak perlu dilakukan setahun sekali. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, wanita yang telah menjalankan tes pap smear dan HPV dengan hasil negatif dapat mengulang prosesnya tiga tahun kemudian.

Bagi Anda yang masih bingung berapa jangka waktu yang dianjurkan untuk kembali melakukan tes skrining kanker serviks, sudah bisa mendapatkan jawabannya.Menurut penelitian terbaru, wanita yang sudah berusia 30 tahun atau lebih yang mendapatkan hasil baik dari dua tes skrining kanker serviks atau kanker leher rahim yang tersedia saat ini bisa menunggu hingga tiga tahun untuk pengujian berikutnya, bukan lagi satu tahun.

”Temuan ini tidak mungkin menjadi kontroversial,” kata Dr Charles Capen, kepala bidang ginekologi/onkologi di Scott & White Healthcare di Temple,Texas, Amerika Serikat, seperti dikutip HealthDay.

Dia mengingatkan bahwa pedoman terbaru memang sudah merekomendasikan wanita berumur 30 tahun ke atas yang dinyatakan sehat dipersilakan tes pap smear dan tes untuk virus yang berhubungan dengan kanker serviks kembali setelah tiga tahun, selama tes awal keduanya negatif.

US National Cancer Institute menyebutkan,tidak seperti beberapa jenis kanker, kanker serviks biasanya tumbuh lambat dan penderita dapat disembuhkan jika terdeteksi dini. ”Ini (penelitian baru) menegaskan kembali pedoman terbaru tersebut,”ucap Dr Therese Bevers, direktur medis dari Cancer Prevention Center di University of Texas MD Anderson Cancer Center, Houston, Amerika Serikat.

”Itu sangat menakjubkan karena dapat memberikan keyakinan bagi dokter dan wanita di mana pun,” lanjutnya.

”Semoga, temuan ini juga akan memacu lebih banyak lagi dokter yang benar-benar mengikuti panduan ini,” tambah Bevers.

Apalagi, sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa kebanyakan dokter menganjurkan tes pap smear lebih sering daripada yang direkomendasikan, yaitu satu tahun sekali.

Temuan studi ini akan dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society of Clinical Oncology yang diadakan pada Juni di Chicago, Amerika Serikat. Hasilnya sendiri telah dirilis pada Rabu (18/5) melalui teleconference. Risiko kanker serviks dapat diuji oleh dua tes yang berbeda.

Pertama, dengan tes tradisional yaitu pap smear, yang mencari kelainan pada sel leher rahim. Kedua, tes baru yang dapat mendeteksi DNA dari virus yang menyebabkan kebanyakan kasus kanker serviks, yaitu human papillomavirus atau HPV. Skrining itu disebut dengan tes HPV.

Sementara itu, studi baru ini melibatkan lebih dari 330.000 wanita yang terdaftar dalam kerangka kesehatan di California bagian utara yang menjalankan kedua jenis tes tersebut antara 2003 dan 2005 dan terus dipantau selama lima tahun setelah diuji.

Perkiraan risiko lima tahun mengembangkan kanker serviks adalah 7,5 per 100.000 perempuan bagi mereka yang hasil pap smear-nya normal, dibanding dengan 3,8 per 100.000 untuk wanita yang negatif pada tes HPV.

Ketika dua tes dilakukan bersamaan yang menghasilkan hasil negatif, risiko diperkirakan sekitar 3,2 per 100.000 perempuan, yang berarti bahwa tes HPV saja hampir sama baiknya dengan yang digabungkan.

”Dengan tes HPV saja (diprediksi) risiko kanker sangat rendah bagi wanita, meskipun tidak diturunkan (risikonya) dengan mendapatkan hasil pap smear normal,” kata pemimpin penelitian Hormuzd Katki, yang juga seorang peneliti utama di divisi epidemiologi dan genetik kanker di US National Cancer Institute.

Itu berarti bahwa wanita yang tes HPV-nya negatif dapat memperpanjang jangka waktu skrining sampai tiga tahun tanpa konsekuensi yang merugikan.

”Ini menimbulkan pertanyaan, haruskah pengujian HPV menjadi standar pada sejumlah poin,” kata Bevers.

”Hal ini sangat penting bagi negaranegara berkembang yang kebanyakan tidak memiliki kemampuan untuk menerjemahkan tes pap smear,” imbuhnya lagi.

"Pengujian HPV jauh lebih mudah.”Ini seperti melakukan tes kehamilan di rumah. Hasilnya positif atau negatif,” ujar Bevers.

Namun, masih ada kegunaan bagi tes pap smear, yaitu untuk menindaklanjuti tes HPV yang hasilnya positif. ”Tes pap smear dapat mengidentifikasi wanita yang memiliki penyakit lebih cepat,” ujar Katki.

Kanker serviks kini merupakan penyebab kematian nomor satu dari jenis kanker yang menyerang kaum hawa. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks dan sekitar 8.000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian.

Penyebabnya yaitu adanya perubahan gen mikroba seperti virus HPV, radiasi atau pencemaran bahan kimia. Kanker serviks stadium dini yang cepat ditangani dapat sembuh sampai 100 persen. Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dan liang senggama (organ V).

Lalu kanker serviks menyerang siapa? Yang berisiko, di antaranya wanita yang telah melakukan hubungan seksual di usia muda, wanita yang melakukan kontak seksual dengan berganti-ganti pasangan, perokok, serta kurang mengonsumsi sayur dan buah-buahan.

(Chaerunnisa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya