Suami Vasektomi, Istri Masih Bisa Hamil?

Mom & Kiddie, Jurnalis
Sabtu 05 Maret 2011 04:08 WIB
Pasangan suami istri cek kehamilan (Foto: Corbis)
Share :

VASEKTOMI sudah dikenal lama sebagai salah satu kontrasepsi pada pria. Pria yang melakukan vasektomi secara permanen tentunya tidak bisa menghamili perempuan karena saluran spermanya sudah dipotong. Tapi benarkah istri masih bisa hamil pada tiga bulan pertama setelah suami melakukan vasektomi?
 
Kontrasepsi Mantap!
 
Menurut Prof Dr dr Wahyuning Ramelan SpAnd (K) dari Brawijaya Women & Children Hospital, pengertian vasektomi secara umum berarti memotong atau mengikat vas deferens (saluran sperma) dengan tujuan agar sperma yang diproduksi testis tidak keluar, sehingga mencegah pembuahan telur dan kehamilan pada istri.
 
“Ini adalah cara KB untuk laki-laki dengan cara bedah,” katanya.
 
Nah, vasektomi dengan cara memotong saluran sperma inilah yang kerap disebut sebagai kontrasepsi mantap bagi laki-laki dan dilakukan melalui bedah minor (kecil). Tingkat keberhasilan metoda kontrasepsi ini dalam mencegah kehamilan sangat tinggi, mencapai angka 100 persen.
 
Berbeda halnya dengan vasektomi dengan cara diikat. Vasektomi yang dilakukan dengan tanpa operasi ini dilakukan dengan mengikat saluran sperma yang sifatnya tidak permanen, alias bisa dilepas seperti semula.
 
Namun, lanjut Prof Dr dr Wahyuning Ramelan SpAnd (K), kegagalan masih dapat dikatakan tinggi jika vasektomi masih menggunakan cara lama yaitu metoda ikat. Oleh sebab itu, vasektomi ikatan dapat disebut sebagai kontrasepsi tidak mantap.
 
“Pasalnya dengan ikatan berarti untuk jangka waktu terbatas dan dapat hilang daya cegah hamilnya. Tapi sekarang, vasektomi yang diikat sudah jarang dilakukan,” ulasnya.
 
Tak Akan Mengganggu
 
Sperma setiap hari diproduksi oleh testis dan melalui saluran sperma untuk kemudian masuk ke dalam vesikula seminalis –pasangan kelenjar yang terletak di bagian belakang-bawah kantung kemih dari pria. Sperma tidak selalu harus dikeluarkan, tidak seperti sel telur yang dikeluarkan secara berkala setiap siklus haid.
 
Pada pria yang divasektomi, sperma tetap diproduksi oleh testis, namun sperma tersebut tidak langsung masuk ke vesikula seminalis karena saluran diputus. Oleh karena itu sperma kemudian diserap oleh tubuh. Ketika berhubungan badan, pria tetap bisa ereksi namun tak ada sperma yang keluar kecuali air maninya saja (semen). Jadi, tak perlu khawatir vasektomi akan mengganggu aktivitas seksual antara istri dan suami.
 
“Dari sudut medik sebenarnya tak ada risiko atau komplikasi setelah vasektomi. Memang ada laporan keluhan, hubungan seks menjadi tak nyaman. Tapi itu dapat dipastikan sangat kecil angka kejadiannya dan dipastikan akan hilang. Ini dinilai merupakan reaksi psikologis lelaki yang kurang stabil secara emosional,” tegas Prof Wahyuning.
 
Oleh sebab itu, sebelum memutuskan melakukan vasektomi, hendaknya pria tersebut sudah benar-benar yakin akan keputusannya dan disetujui oleh sang istri.
 
Risiko Hamil
 
Namun, bila ada pria yang telah melakukan vasektomi masih bisa menghamili istrinya, Prof Wahyuning mengatakan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, sang pria melakukan vasektomi “model” dulu yang hanya diikat, sehingga ketika ikatan lepas atau putus maka saluran sperma terbuka kembali.
 
“Akibatnya, saat berhubungan, cairan yang masuk ke isteri mengandung sperma dan tentu saja dapat membuahi sel telur isteri yang berlanjut pada kehamilan,” duganya.


Kemungkinan kedua adalah beberapa hari pascavasektomi, suami sudah berhubungan badan dengan istri. Nah, pascavasektomi, cairan yang keluar pada persetubuhan dengan isteri, tidak otomatis langsung steril. Untuk beberapa lama pria yang divasektomi masih fertil/subur, ini berarti cairan yang dikeluarkan masih mengandung sperma, yang notabene dapat menyebabkan istri hamil.
 
“Karena pada bagian luar ikatan pemotongan, ada sperma yang ‘tersembunyi’ sehingga suami belum benar-benar steril,” paparnya.
 
Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa waktu yang dibutuhkan secara tepat sehingga suami benar-benar steril pascavasektomi adalah berbeda-beda antara pria satu dengan lainnya.
 
Tunggu Minimal Tiga Bulan
 
Oleh sebab itu, ia menyarankan, untuk amannya, tiga bulan pascavasektomi, suami harus menggunakan pengaman atau kondom bila bersetubuh dengan istri.
 
“Mungkin belum tiga bulan ia lupa menggunakan kondom, atau memang sengaja tidak dipakai karena merasa sudah aman...” ujar Prof Wahyuning lagi menambah daftar jumlah penyebab terjadinya kehamilan pada sang istri.
 
Tetapi, jika masa “waspada” tersebut telah lewat, maka keuntungan yang diperoleh dari vasektomi dalam hal kontrasepsi adalah kepraktisan. Rutinitas ber-KB seperti menggunakan kondom tiap kali hendak berhubungan, meminum pil KB atau suntik tiap bulan bagi isteri, kini tak perlu lagi dilakukan.
 
Terlepas dari hal itu, vasektomi adalah salah satu jenis kontrasepsi. Pilihan ada di tangan suami atau istri. Ingatlah, sebelum memutuskan melakukan metoda kontrasepsi mantap, yakinkan diri bahwa keputusan yang diambil adalah tepat sehingga tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.

(Tuty Ocktaviany)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya