“DUH, anakku tidak naik kelas,” keluh Neha. Harus bagaimana, ya?” Berikut penjelasan dari Fabiola P Setiawan MPsi dari LPTUI.
Pindah Sekolah Jika...
Bila berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis, kemampuan anak berada di bawah atau tidak sesuai dengan tuntutan sekolah, sehingga ia mengalami kesulitan untuk mencerna berbagai materi pelajaran. Dan apabila anak tetap dipaksakan untuk mengikuti pendidikan di sekolah yang memiliki tuntutan di atas kemampuannya, maka anak dapat merasa terbebani, memiliki motivasi rendah untuk belajar atau merasa rendah diri karena seringkali tertinggal dibandingkan teman-temannya.
Atau apabila ada permasalahan di sekolah yang memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak. Misalnya, adanya hukuman fisik yang diterapkan pada anak, proses belajar mengajar yang tidak kondusif, atau lingkungan teman-teman yang seringkali melakukan tindakan bullying namun tidak mendapatkan konsekuensi keras dari pihak sekolah. Lebih baik anak yang tinggal kelas pindah ke sekolah baru.
Mengulang Kembali di Kelas yang Sama
Sedangkan keputusan untuk tetap mempertahankan anak untuk melanjutkan pendidikan di sekolah yang lama dapat ditempuh, apabila:
1. Anak belum memahami cara belajar yang tepat sehingga belum menunjukkan potensinya secara optimal.
2. Anak memiliki kemampuan yang menunjang keberhasilannya di sekolah.
- Sekolah memiliki metoda pengajaran yang menarik dan menyenangkan sehingga dapat membantu anak untuk meningkatkan motivasi belajar.
- Dukungan dari pihak sekolah untuk membantu anak memperbaiki hasil belajar di kemudian hari.
- Anak memahami konsekuensi dari tinggal kelas dan siap untuk mengulang kembali di kelas yang sama di sekolahnya.
Jangan Salahkan Anak!
Jika si kecil tidak naik kelas, sebaiknya orangtua tidak langsung menyudutkan dan menyalahkan anak. Karena hal ini dapat membuat jarak antara anak dan orangtua, sehingga tidak memberikan solusi terbaik bagi perkembangan anak selanjutnya. Sebaiknya sikap orangtua bila buah hatinya tinggal kelas, yaitu:
- Ajak anak bicara dari hati ke hati mengenai perasaannya dan penyebab tinggal kelas. Ajak juga anak untuk menemukan cara tepat belajar secara bertahap yang dijalankan dengan konsisten, agar anak tidak mengalami peristiwa yang sama pada kemudian hari.
- Berikan dukungan dan yakinkan anak bahwa ia dapat menunjukkan hasil yang lebih baik. Untuk itu, orangtua perlu mengetahui potensi kecerdasan yang dimiliki anak melalui pemeriksaan psikologis. Hal ini diperlukan agar orangtua tidak memaksakan anak untuk menguasai materi di luar kemampuan yang dimilikinya.
- Pada umumnya, tinggal kelas bukanlah merupakan keputusan mendadak dari sekolah. Sebelumnya, sekolah memberikan peringatan, surat kepada orangtua, adanya nilai-nilai akademik yang rendah, dan sebagainya. Apabila anak tidak mengindahkan peringatan dari sekolah dan orangtua untuk lebih rajin belajar atau memperbaiki sikap belajar, maka ia akan mendapatkan kosekuensi dari tinggal kelas yang dialaminya. Tentunya konsekuensi ini sudah dibicarakan jauh-jauh hari sebelumnya, agar anak mendapatkan waktu dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Konsekuensi yang diberikan anak dapat berupa pengurangan waktu bermain, peningkatkan waktu belajar, mengikuti program bimbingan belajar. Berikan penjelasan bahwa konsekuensi tersebut akan membantunya untuk meraih hasil belajar yang lebih baik sehingga anak tetap merasakan dukungan dari lingkungan sekitar untuk memperbaiki diri dan mengembangkan kemampuannya.
- Hindari pemberian hukuman fisik maupun kalimat negatif yang dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan psikologisnya. Anak yang mendapat hukuman fisik maupun kalimat negatif dapat merasa rendah diri, merasa tidak mampu, dan kurang percaya diri.
(Tuty Ocktaviany)