Balas Pukul atau Diam Saja?

Mom & Kiddie, Jurnalis
Sabtu 24 Juli 2010 11:07 WIB
Seorang anak berantem dengan temannya (Foto: Corbis)
Share :

BAGI batita, masa usia 2,5-3 tahun merupakan fase eksplorasi sosial. Di sini, anak mulai menaruh minat pada eksplorasi sosial yang lebih luas daripada keluarga intinya. Hal ini bisa dilihat dari sikapnya yang mulai mencari teman untuk bermain bersama, atau bergabung dengan teman sekelompoknya.

Di sisi lain, tak tertutup kemungkinan akan tercipta konflik saat si kecil bermain dengan teman-temannya dan ia bisa saja mendapat serangan fisik seperti dipukul, dicubit, ditendang, atau dijambak. Bagaimana menyikapinya?

Reaksi Spontan: Menangis  

Jika ia mendapat serangan fisik dan bereaksi dengan menangis atau langsung mengadu kepada orangtuanya, itu adalah reaksi yang wajar.

Baginya, menangis adalah cara untuk memberitahukan kepada orang sekitar bahwa dia merasa terancam dan tidak nyaman atas perlakuan kasar teman sepermainannya.

Justru yang dikhawatirkan adalah bila si kecil balas memukul teman yang lebih dulu memukulnya. Walau dia melakukan hal ini sebagai cara untuk membela diri, bisa saja pada akhirnya si kecil malah mendapat sanksi sosial, misalnya dijauhi oleh teman-temannya. Moms or Dads tidak menginginkan hal ini terjadi kepadanya, bukan?
                                                                                        
Jangan Langsung Terlibat

Tiap anak memiliki cara sendiri dalam menyesuaikan bahkan mempertahankan diri. Ada anak yang mendapat perlakuan kasar dari teman sepermainannya –misalnya dipukul- akan balas memukul; langsung lari begitu akan dipukul; atau bahkan diam saja (karena takut).

Untuk menyikapi hal ini, sebaiknya jangan langsung menghakimi apa yang telah anak perbuat. Jangan pula serta-merta membalas atau memarahi temannya yang suka memukul tersebut. Cara ini justru tak mengajarkan anak untuk bersikap benar dan berani.

Biarkan Anak Mengambil Sikap

Latihan memecahkan masalah akan sangat berguna ketika batita tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Lawrence E Saphiro, penulis buku "Kecerdasan Emosi" menyarankan Anda melakukan teknik bertanya untuk membantu anak berpikir bagaimana memecahkan masalah.

Ia menguraikan ilustrasi sebagai berikut:

Anak   : "Bu, aku dipukul teman..."
Ibu    : "Oh ya? Terus apa yang kamu lakukan?"
Anak   : "Aku diam saja."
Bapak  : "Kalau diam saja, besok kamu dipukul lagi, lho. Tapi kalau kamu membalas, kamu juga bisa berkelahi ya sama dia."

Bagaimana ya, supaya ini tak terjadi dan kalian bisa tetap berteman? Mungkin saja anak bereaksi seperti ini. 'Aku enggak mau memukul lagi, ah. Takut. Dia kan badannya besar. Aku cepat-cepat lari saja deh, kalau dia mau memukul'." Ini berarti, anak mempunyai strategi sendiri dalam mengambil sikap.

Sebaliknya, jika ternyata anak bersikap lain, misalnya, "Kalau dia pukul, aku pukul saja lagi biar dia kapok."

Nah, apa yang dia lakukan tak lantas dibenarkan bahkan dihakimi, karena memang demikian sikap refleks anak dalam membela diri. Yang perlu dilakukan orangtua adalah memberi anak pengertian bahwa memukul balik tidak dapat menyelesaikan masalah, apalagi bila diam saja atau lari menghindar.

Tumbuhkan Rasa Percaya Diri

Bila kasus ini terjadi di sekolah, Moms bisa katakan kepada si kecil, "Bila Angga kembali memukulmu sebaiknya adukan langsung ke ibu guru. Karena, bunda tidak bisa setiap saat ada di sampingmu". Atau, orangtua bisa meminta kepada guru agar masalah ini tidak berkepanjangan. Gurulah yang bertanggungjawab dalam melerai anak-anak.

Bagi "korban", kalau peristiwa ini sudah lama terjadi, bisa jadi tumbuh perasan minder dan kecil hati dalam dirinya. Orangtua bisa membantu mengembalikan keberanian dan percaya dirinya dengan mengajarkan anak untuk lebih berani dan percaya diri.

Coba ajarkan anak untuk bisa merespon perlakuan buruk yang menimpanya dengan kata-kata, "Jangan memukul, dong. Sakit nih. Lebih baik kita berteman." Atau, "Kalau aku diam saja bukan berarti aku takut, tapi Papa dan Mama tak mengizinkan aku memukul. Katanya itu bukan tindakan jagoan."

Semoga berhasil, Moms!

(Chaerunnisa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya