"Aku Enggak Mau Sekolah, Ma!"

Mom & Kiddie, Jurnalis
Minggu 30 Mei 2010 10:05 WIB
Seorang ibu mencari tahu saat anak mengalami trauma (Foto: Corbis)
Share :

TAHUKAH Moms, peristiwa yang dialami oleh Dwi Agung Cahyono, siswa kelas IX D, SMPN 6 kota Probolinggo pertengahan bulan Februari lalu.

Dwi Agung mengaku dihukum gurunya dengan mengunyah kapur tulis. Alhasil, sebagian dari kapur tulis tersebut tertelan ke perutnya, sehingga perutnya mulas, setelah kejadian tersebut.

Hukuman tersebut diberikan karena Dwi Agung tidak mengerjakan PR (pekerjaan rumah) mata pelajaran Matematika. Akibat kejadian itu, Dwi menjadi trauma dan enggan masuk sekolah. Bayangkan, bila kejadian tersebut menimpa buah hati Moms yang masih duduk di bangku sekolah dasar?

Terjadi Trauma di Sekolah

Trauma karena hukuman yang diberikan oleh guru dapat terjadi pada anak-anak sekolah dasar sekalipun. Menurut Naomi Soetikno, M.Pd., Psi., Konselor Psikologi Omni Medical Center, Pulomas, trauma karena hukuman guru adalah ketidaksiapan seorang anak menghadapi suatu kejadian. Dapat dikarenakan hukuman datangnya tiba-tiba dan secara kualitas atau kuantitas.

Suatu kejadian akan dihayati sebagai kejadian traumatik pada satu orang. Tapi tidak pada orang yang lain, bergantung tingkat kesiapan setiap orang dalam menghadapi permasalahan. Pun bergantung dari ketahanan mental yang dimiliki individu tersebut, keterampilan individu dalam menghadapi permasalahan yang bervariasi, dan juga adanya dukungan sosial yang kuat.

"Reaksi terhadap keadaan di atas juga sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan, genetik atau juga faktor pembiasaan dari hasil adaptasi dan pengasuhan," tambahnya.

Tanda-tanda Anak Trauma

Beberapa tanda bila anak mengalami trauma di sekolah adalah menolak sekolah dengan segala alasan yang tidak dapat dijelaskan. Seperti malas bangun pagi, atau bangun pagi dengan rewel, tidak segar, dan ada juga yang sering mimpi buruk yang tidak dapat ia jelaskan alur cerita mimpinya, menolak berpakaian sekolah, makan sarapannya dengan lambat, mual dan atau demam, pusing dan sakit kepala di pagi hari menjelang sekolah. Kadangkala anak pun sulit untuk menceritakan secara detail dan runtut mengenai sebab ia merasakan ketidaknyamanan tersebut.

Cara Mengatasi Trauma

Bila kejadian traumatis sampai memengaruhi keadaan fisik seperti demam, sakit kepala, dan muntah maka sangat diperlukan bantuan atau pertolongan pertama dari pihak medis atau dokter untuk memeriksa keadaan fisiknya serta memberikan obat atau vitamin.

Setelah dikonsultasikan pada psikolog serta menjalani psikoterapi baik untuk anaknya sendiri maupun orangtua.

Setelah hasil konseling dan psikoterapi, orangtua atau pengsuh akan dilatih juga bagaimana melatih anak agar memiliki ketahanan mental yang lebih tangguh, seperti membiasakan anak melakukan sendiri tugas-tugas sederhana dan membiarkan ia mengatasi kesulitan dan tantangan dalam mengerjakan tugas, bantuan-bantuan yang terlalu banyak diberikan kepada anak hanya akan membuatnya menjadi rapuh secar mental.

Biasakan melakukan feedback -pujian dan arahan- atau berdiskusi dengan anak mengenai keberhasilan yang ia lakukan, walaupun belum sempurna.

Perhatikan pula kendurnya aturan yang diberikan dalam keluarga, misalkan anak sekali waktu menampilkan gejala seperti di atas. Hal tersebut dapat dijadikan faktor pembelajaran, bila anak sedang tidak merasa nyaman dengan sekolahnya, agar ia tidak membolos atau berdalih sakit.

Maka tindakan yang tepat untuk dilakukan orangtua adalah mengobservasi perilaku anak dengan detail dengan melihat perubahan kondisi fisik dan emosinya bila ia tidak berangkat ke sekolah.

(Chaerunnisa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya