Mudik Nyaman Naik Pesawat

Koran SI, Jurnalis
Rabu 16 September 2009 11:13 WIB
Foto: Ist
Share :

EUFORIA mudik Lebaran mencapai puncaknya pekan ini. Bagi para ibu yang punya bayi, persiapan matang diperlukan agar si mungil tetap nyaman dalam perjalanan.

Ibu yang mempunyai bayi berusia bulanan biasanya ekstra hati-hati dalam menjaga kesehatan bayinya. Jika terpaksa harus membawa bayi bepergian ke luar kota, mereka ingin agar si bayi merasakan kenyamanan saat berkendaraan. Berbagai moda transportasi mulai mobil pribadi, bus, kereta api hingga pesawat dapat dipilih.

Artis Meisya Siregar mengaku lebih suka bepergian naik pesawat yang dinilainya lebih mudah dan efisien dari segi waktu, apalagi jika harus membawa anaknya.

"Kalau di pesawat aku bisa ngajak anakku jalan-jalan kalau memang situasinya memungkinkan. Sedangkan kalau naik mobil aku suka bingung, waktunya juga lama, jadinya suntuk. Selain itu ruangannya juga terbatas, jadi aku lebih mati gaya," tutur ibunda dari Lyrics Syabila Mu Saqeena, 4.

"Anak saya sudah mulai diajak bepergian naik pesawat sejak umur 6 bulan," sambungnya.

Dokter spesialis anak dari Sekolah Kedokteran Universitas Florida Selatan di Tampa Amerika, Lane France MD, mengungkapkan, idealnya bayi sudah berusia minimal dua atau tiga bulan saat memulai terbang dengan pesawat untuk pertama kalinya.

Ini untuk memberi kesempatan pada sistem daya tahan tubuhnya untuk tumbuh dulu, hingga cukup kuat untuk menangkal mikroba yang biasanya terdapat pada sistem ventilasi pesawat udara. Akan tetapi, jika memang orangtua tidak bisa menunggu terlalu lama, boleh saja membawa bayi terbang setelah usia dua minggu.

Namun, Franc mengingatkan untuk memeriksakan kesehatan si bayi terlebih dulu untuk memastikan bahwa si bayi punya catatan kesehatan yang baik dan si ibu pun semasa hamil kondisinya normal tanpa komplikasi.

"Untuk bayi prematur biasanya lebih rentan terhadap mikroba, sehingga butuh waktu agak lama hingga mereka siap untuk diajak bepergian dengan pesawat," ujar Franc dalam www.babycenter.com.

Jika ibu merasa ragu atas kondisi kesehatan bayinya, mintalah nasihat dari dokter anak. Umumnya, pihak maskapai penerbangan tidak akan mengizinkan bayi berusia di bawah satu minggu untuk naik pesawat, kecuali atas pertimbangan tertentu yang sangat mendesak.

Banyak orangtua yang mengkhawatirkan perubahan tekanan udara yang terjadi saat terbang akan membahayakan telinga bayi. Mungkin ibu pernah mendengar tentang cara menghindarkan bayi dari kebudekan (kebisingan) saat di pesawat adalah dengan menyumbat telinganya dengan kapas. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, tapi sebenarnya juga tidak terlalu berpengaruh, bahkan terkadang malah membuat bayi tidak nyaman.

Dalam telinga tengah ada saluran penghubung ke rongga mulut yang disebut tuba eustachia. Ketika pesawat mulai naik (lepas landas) tekanan udara akan berkurang. Sebaliknya saat akan mendarat (landing) tekanan udara meningkat, sehingga bisa menekan gendang telinga. Hal yang penting adalah bagaimana menjaga agar tekanan di dalam saluran tersebut agar tetap lancar.

Tuba eustachius pada bayi biasanya belum sempurna, sehingga upaya terbaik untuk menghindarkan bayi dari kesakitan saat lepas landas dan mendarat adalah dengan mengusahakan mulutnya untuk beraktivitas. Untuk itu, pada saat lepas landas dan beberapa saat sebelum mendarat, ibu sebaiknya menyusui bayinya, baik dengan ASI, susu botol ataupun sekadar mengedot.

Tujuannya agar ada aktivitas atau gerakan di mulut bayi, karena gerakan pada mulut bayi akan membuka saluran tuba eustachius, sehingga telinga tidak tersumbat akibat tekanan udara. Perlu diingat juga bahwa tuba eustachius bisa menjadi bengkak saat bayi terkena pilek, sehingga sangat tidak dianjurkan untuk membawa bayi bepergian dengan pesawat dalam keadaan pilek.

Jika bayi terlihat sangat terganggu atau kesakitan pada telinganya, ibu bisa memberi obat pengurang rasa sakit seperti acetaminophen dengan dosis yang tepat sesuai usia.

Perubahan tekanan udara juga akan terasa sangat tidak nyaman bagi bayi yang mengalami infeksi telinga. Dalam kondisi yang demikian sebaiknya orang tua menunda jadwal penerbangan. Dalam perjalanan biasanya bayi lebih banyak tidur,apalagi kalau jadwal terbangnya bersamaan dengan waktu tidurnya. Ibu bisa memangku bayi dan mengeratkannya dengan sabuk pengaman khusus untuk bayi.

Demi kenyamanan ibu dan bayi, beberapa maskapai penerbangan juga menawarkan fasilitas lengkap untuk bayi, seperti makanan bayi, popok, dan mainan. Untuk meminimalisasi gangguan atas jadwal tidur bayi saat melintasi zona waktu, sebaiknya ibu membawa jam yang sudah diset dan diatur sesuai jadwal.

Menjaga bayi sepanjang waktu di rumah saja terkadang membuat stres, apalagi di ketinggian 30.000 kaki. Karenanya jika memungkinkan, sebaiknya ibu bepergian dengan suami, kerabat, atau babysitter.

(Chaerunnisa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya