APRESIASI terhadap desainer aksesori belakangan ini cenderung meningkat. Mereka bukan lagi sekadar figuran dalam pentas drama di atas panggung peragaan busana.
Salah satu nama yang cukup berpengaruh di kancah aksesori adalah Rinaldy A Yunardi. Karya aksesori lelaki kelahiran Medan 13 Desember 1970 ini telah menjadi langganan sejumlah desainer ternama sebagai total look dalam koleksi busana mereka.
Kiprah si bungsu dari tiga bersaudara dalam dunia mode boleh jadi sebuah kebetulan yang manis. Pemuda perantauan dari Sumatera ini bersekolah di Jakarta sampai tamat sekolah menengah atas. "Saya tidak suka sekolah, lebih baik ambil kerjaan, dan diterima kerja di perusahaan distributor ban mobil," cetusnya.
Pekerjaan pertama lelaki yang akrab disapa Yung ini adalah marketing manager plus-plus. Maksudnya, merangkap sebagai debitur, kasir, pajak. Di sinilah dia banyak belajar. Masa muda yang penuh hip hip hura mempertemukan dirinya dengan desainer ternama, Kim Tong. "Saya memang dekat dengan dia, dan dia kasih kepercayaan, ajak saya untuk kerja bareng sebagai marketing manager aksesori," ungkapnya.
Level manajer menjadi jenjang awal karier pria berwajah rupawan ini. Bedanya, kalau dulu dia mengurusi ban mobil, kini objek pekerjaannya sudah "agak wangi". Meliputi aksesori cantik berupa perhiasan impor. Namanya barang impor banderol harganya pun beda. Yung melihat pasarnya begitu segmented dan kurang berkembang.
"Daripada enggak enak, saya mengundurkan diri. Kebetulan kakak punya perusahaan elektronik, saya pilih bantu kakak di bidang pembukuan," sebutnya. Si kutu loncat ini boleh kembali mengurusi alat-alat berat, tapi ternyata jiwanya tertinggal pada kilau aksesori-aksesori. Tangan kreatifnya malah iseng mainin alat, membentuk printilan-printilan elektro menjadi sebuah mahkota. Dari situ dia mulai melirik bahan yang lebih umum, seperti kristal dan manik. Lepas jam kantor, Yung mulai mengerjakan aksesori di rumah.
Dasarnya bakat, kemudian diasah dengan belajar secara autodidak, kemampuan Yung bertambah terus. Koleksi aksesori eksperimennya banyak diminati orang dekat. Yung mulai mencari rekan kerja dari perusahaan kakaknya itu. Boleh dibilang, dia membangun usaha dalam perusahaan kakaknya.
"Lantas saya tarik mereka untuk ngerjain ini sebagai home industry. Satu koleksi awal saya yang terkenal yaitu choker," sebutnya. Kalung dengan material padat membungkus leher penuh menjadi signature style Yung.
Mengerjakan sebuah aksesori, di mana biasanya menggunakan bahan-bahan cantik berukuran kecil (dengan harga relatif mahal) pastinya membutuhkan ketelitian. Beruntung Yung termasuk orang yang telaten. "Tugas pekerjaan tangan di sekolah biasanya saya kerjakan sampai rapi. Dari situ bisa kelihatan kali ya," cetusnya manja.
Kemudian pergaulan menghantarkan Yung pada teman-teman desainer kenamaan. Diawali dari Sebastian Gunawan dan Yohanes dari Yohanes Bridal. Yung kerap kali menerima order untuk mengerjakan aksesori khusus pentas. "Mereka menyuruh saya membuat hal-hal yang inovatif dari bahan unik, misalnya akrilik. Memang berhasil dan tidak bisa dipakai, hanya untuk keperluan di atas panggung," ujar penyuka masakan Padang ini seraya tersenyum.
Bermodal kepercayaan, talenta, dan proses belajar, Yung mulai mengembangkan desain aksesori miliknya. Potensi bentuk khas Indonesia sangat menarik. Tinggal bagaimana mengaplikasikannya pada bahan-bahan. Pergaulan dengan pelaku mode pun menambah taste dalam diri Yung. Bicara pergaulan, awalnya Yung minder karena tidak punya latar belakang mode yang kuat. Namun, dasarnya luwes bergaul, Yung cepat diterima di kalangan mode. "Pertemanan memang sangat menunjang, kita bisa saling kenal dan lebih akrab lagi," ujar desainer yang mendukung tujuh show pada tahun 2008 ini.
Bicara gaya desain, Yung tidak memungkiri dia mulai terpengaruh gaya rancang couture. Dua sahabatnya Didi Budiardjo dan Eddy Betty memang jagonya, Yung tidak mau kalah. "Pasti mengikuti dengan teknik yang mewah, glamor, dan complicated, memiliki bentuk seni juga," sebut penyuka telur balado ini.
Namanya naik seiring dengan mulai tumbuhnya apresiasi masyarakat terhadap aksesori. Untuk itu, Yung merasa sangat beruntung. "Memang waktu saya muncul dan aksesori mulai diangkat dalam fashion Indonesia. Kini sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa lepas. Malahan saya pernah mengalami klien datang bikin aksesori dulu baru baju," ungkapnya ceria.
Dan taste dari sosialita Indonesia makin membaik. Kini mereka mulai melek aksesori tidak sekedar cantik, melainkan punya seni tinggi. Beberapa koleksi aksesori Yung yang luar biasa ajaib ditampilkan dalam ajang Bazaar Fashion Concerto 2008 lalu.
Dia menampilkan sesuatu yang sifatnya lebih entertain ketimbang "mempercantik". Bentuk, jiwa, interpretasi akan tema Tanah Air dihadirkan dalam wujud 13 karakter "antah-baratah". 13 model dengan baju lateks berwarna mineral seperti gold dan silver, mengenakan aksesori kepala maupun tubuh yang superajaib. Perkawinan model reog dengan gaya Indian, kostum lampu yang ternyata mengalami korslet di sisi kiri, malah dianggap teatrikal.
(Tuty Ocktaviany)