DESAINER Musa Widyatmodjo masih menyempatkan waktu meracik koleksi baru di ajang Eco Chic, meski pada April mendatang akan menggelar show tunggal. Seperti apakah koleksinya?
Koleksinya terlihat lain dari biasanya dan sangat inovatif. Pasalnya, Musa mencoba bereksperimen dengan selembar tikar seukuran 2,5 meter untuk diaplikasikan dalam rancangan gaun nan cantik.
"Awalnya saya ingin mencoba dengan kain perca. Tapi saya pikir pasti banyak desainer yang akan memakai kain perca dalam mewujudkan karyanya. Makanya saya melirik tikar, yang memang tidak jauh dari kehidupan kita," kata Musa kepada okezone di Hotel Four Season Jakarta, Senin (3/3/2008).
Dalam mewujudkan koleksi busana nan cantik dari material tikar, Musa pun mengaku banyak kesulitan. Hal ini disebabkan oleh karakter dari tikar itu sendiri yang memang berbeda dengan material kain.
"Saya perlu trial and error agar bisa mewujudkan gaun yang bagus seperti saat ini. Sampai-sampai saya harus mengeluarkan semua jurus silat saya selama proses pembuatan busana," canda desainer yang dikenal ramah ini.
Penasihat dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini menambahkan, tikar itu memiliki karakter yang sedikit kaku, meskipun dibuat dengan proses ditenun. Pun begitu, Musa akhirnya mendapatkan satu pengalaman bahwa dari karakter bahanlah dirinya bisa mendesain sebuah koleksi busana.
"Koleksi saya memang tidak terlalu spektakuler seperti desainer lainnya. Tapi dengan desain yang simpel ini akan bisa memunculkan pertanyaan dari banyak orang bahwa gaunnya kok simpel banget, apa hebatnya," ujar desainer kelahiran Jakarta, 13 November 1965 ini.
Mengenai rencana pengembangan koleksi dengan material bahan natural, Musa berpendapat tidak saat ini. "Saya tidak mau terburu-buru dan pastinya itu sebagai sebuah proses. Saya tidak ingin berkomitmen pada sesuatu yang buat saya itu masih baru. Tapi bagaimanapun saya tetap tidak lepas untuk tetap mengolah potensi Indonesia untuk dikenalkan ke kancah global," tutur Musa yang mengusung tema koleksi "Weaving the Future".
Alasan Musa bisa jadi dimaklumi, karena tidak sedikit desainer Indonesia yang harus melakukan eksperimen secara berulang-ulang untuk menciptakan karya apik.
"Sesuatu yang baru itu pasti mahal. Mungkin bisa lima tahun kemudian bahannya akan murah, karena produk baru itu banyak ekperimennya. Namun saya sangat tergelitik bahwa acara Eco Chic ini bisa menjadi pembelajaran buat kita semua akan pentingnya memelihara alam dan lingkungan," tutup desainer yang menjadi peserta di ajang Bali Fashion Week (BFW) 2007.
(Tuty Ocktaviany)