
dr. Andi Sitti Tandina mengatakan bahwa demam lebih jarang ditemukan pada kanker payudara dibandingkan pada kondisi peradangan seperti mastitis. Namun, tidak adanya demam juga tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa benjolan merupakan kanker.
Begitu pula, adanya demam dan kemerahan tidak selalu cukup untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi lain. Bahkan, terdapat jenis kanker payudara tertentu, seperti kanker payudara inflamasi, yang dapat menimbulkan kemerahan, pembengkakan, dan perubahan kulit sehingga menyerupai peradangan.
Oleh sebab itu, perbedaan gejala hanya dapat menjadi petunjuk awal, bukan dasar untuk menentukan diagnosis secara mandiri.
“Jarang (alami demam saat alami kanker payudara),” ucap dr. Andi Sitti Tandina.
Ibu menyusui sebaiknya memeriksakan diri ke dokter jika menemukan benjolan baru pada payudara. Utamanya jika benjolan menetap, terasa keras, atau disertai perubahan bentuk dan kondisi kulit.
Pemeriksaan juga diperlukan jika keluhan yang menyerupai mastitis tidak membaik atau justru semakin parah. Demam tinggi, kemerahan yang meluas, dan rasa nyeri yang berat perlu mendapat perhatian medis.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan, jika diperlukan, menyarankan pemeriksaan pencitraan seperti USG payudara. Pemeriksaan lanjutan lainnya dapat dilakukan sesuai temuan klinis.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.