BATIK menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki daya tarik hingga mancanegara. Tidak hanya hadir sebagai kain tradisional, motif batik juga dapat ditemukan pada berbagai produk, mulai dari pakaian, tas, dompet, hingga aksesori.
Di balik motif dan pola yang indah, setiap batik memiliki cerita serta filosofi tersendiri. Beberapa motif bahkan berkaitan dengan kehidupan kerajaan, kisah cinta, hingga kondisi sosial dan lingkungan masyarakat.
Secara etimologis, istilah batik kerap dikaitkan dengan kata dalam bahasa Jawa, yakni amba yang berarti luas dan matik yang berkaitan dengan membuat titik. Teknik batik menggunakan malam atau lilin sebagai perintang warna sebelum kain melalui proses pewarnaan.
Tepat di Hari Batik Nasional yang jatuh pada hari ini, Jumat (2/10/2026), menarik menilik sejarah di balik motif batik Indonesia. Dilansir dari Indonesia Travel, berikut 7 motif batik yang memiliki kisah menarik di baliknya:

Motif Kawung merupakan salah satu motif batik klasik yang memiliki pola geometris khas. Motif ini dipercaya berkembang di lingkungan Kesultanan Yogyakarta dan pernah memiliki keterkaitan dengan kalangan kerajaan.
Bentuk geometris Kawung kerap dikaitkan dengan buah aren atau kolang-kaling. Polanya yang menyerupai susunan oval menjadi salah satu ciri khas motif tersebut.
Dalam perkembangannya, Kawung tidak lagi terbatas pada kalangan tertentu dan kini banyak digunakan dalam berbagai jenis busana maupun produk batik. Batik ini pun disebut punya makna dan filosofi soal kesucian dan keikhlasan, pengendalian diri, serta kekuatan dan wibawa.

Parang menjadi salah satu motif batik yang sangat dikenal di Indonesia. Motifnya memiliki bentuk diagonal menyerupai susunan huruf "S" yang berulang. Parang memiliki sejarah panjang dan berkaitan dengan lingkungan keraton di Jawa.
Dalam filosofi Jawa, Parang sering dikaitkan dengan keberanian, kekuatan, dan semangat yang terus bergerak. Karena memiliki nilai simbolis yang kuat, motif ini secara historis juga memiliki aturan tertentu dalam penggunaannya di lingkungan keraton.

Motif Sekar Jagad memiliki pola yang menyerupai kumpulan bidang atau pulau-pulau kecil yang saling berdampingan. Nama Sekar Jagad kerap dikaitkan dengan makna "keindahan dunia". Motif ini menggambarkan keberagaman dan keindahan yang terdapat dalam kehidupan.
Warna dan pola Sekar Jagad yang beragam membuatnya banyak digunakan dalam berbagai kesempatan, termasuk busana formal maupun acara keluarga. Motif ini juga menjadi simbol keberagaman yang hidup berdampingan.

Motif Truntum memiliki cerita yang erat dengan kisah cinta di lingkungan Keraton Surakarta. Salah satu kisah yang berkembang menyebut motif ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana ketika mengalami kesedihan karena perhatian Raja beralih kepada orang lain.
Saat berada dalam kesedihan, sang permaisuri disebut membuat pola berbentuk bintang dengan terinspirasi dari langit malam. Motif tersebut kemudian dikaitkan dengan makna cinta yang tumbuh kembali atau cinta yang bersemi. Karena filosofi tersebut, Truntum kerap digunakan dalam rangkaian upacara pernikahan adat Jawa.