Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kasus Siswi Korban Keracunan di Karo Hilang Ingatan 70 Persen, Dokter Ungkap Penyebabnya

Mei Sada Sirait , Jurnalis-Rabu, 09 September 2026 |11:06 WIB
Kasus Siswi Korban Keracunan di Karo Hilang Ingatan 70 Persen, Dokter Ungkap Penyebabnya
Ilustrasi keracunan makanan. (Foto: dok Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Kasus keracunan makanan yang dialami siswi bernama Febiola di Karo, Sumatera Utara tengah menjadi sorotan. Pasalnya, usai mengalami keracunan, siswi tersebut dikabarkan mengalami gangguan ingatan hingga 70 persen.

Kabar itu ramai diperbincangkan di media sosial. Salah satu akun X @biduansaa bahkan mengunggah hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan MBG yang diklaim dikonsumsi korban.

Dalam unggahannya, akun tersebut menyebut ditemukan tiga jenis bakteri dalam makanan, yakni Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan E. coli.

Bakteri itu disebut ditemukan pada sejumlah komponen makanan, mulai dari nasi, ikan saus, hingga buah melon. Akun tersebut kemudian mencoba menghubungkan kontaminasi bakteri dengan kondisi Febiola yang disebut mengalami kehilangan ingatan.

“Kok bisa sampai hilang ingatan?? NIH LIAT KANDUNGAN MAKANAN BERACUN GRATISNYA!!!” tulis akun tersebut.

Unggahan itu kemudian memberikan penjelasan bahwa muntah dan diare berat akibat keracunan bisa menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan serta elektrolit. Kondisi itu disebut dapat membuat tekanan darah turun hingga terjadi syok, yang pada akhirnya berpotensi mengganggu pasokan oksigen ke otak.

Benarkah Berhubungan dengan Hipokampus?

Akun tersebut mengaitkannya dengan hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam proses pembentukan dan penyimpanan memori.

Namun, penjelasan itu mendapat koreksi dari dokter Tubagus Siswadi. Ia menilai hubungan antara keracunan makanan dan kerusakan hipokampus akibat kekurangan oksigen belum bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan informasi yang beredar.

“Penjelasan ini mungkin terjadi, tapi terlalu cepat kalau langsung disimpulkan hilang ingatannya karena hipokampus rusak akibat kekurangan oksigen,” tulisnya.

Menurut Tubagus, keracunan berat memang dapat menyebabkan muntah dan diare yang kemudian berujung pada dehidrasi hingga tekanan darah turun atau syok hipovolemik.

Namun, gangguan kesadaran setelah keracunan bisa memiliki berbagai kemungkinan penyebab lain. Kondisi lain yang perlu dipertimbangkan misalnya, gangguan elektrolit, gula darah, gagal ginjal atau uremia, kejang, hingga hipoksia.

Karena itu, menurut Tubagus, kondisi pasien ketika mengalami gangguan kesadaran perlu dilihat secara menyeluruh. Ia mempertanyakan apakah pasien sempat mengalami hipotensi berat, penurunan saturasi oksigen, kejang, gangguan elektrolit, memburuknya fungsi ginjal, maupun temuan neurologis tertentu.

“Kalau mau bilang hipokampus rusak karena kekurangan oksigen, harus ada dasar klinisnya,” tegasnya.

Tubagus juga mengingatkan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium terhadap makanan tidak serta-merta dapat menjelaskan kondisi neurologis yang dialami seseorang.

“Hasil lab makanan memberi petunjuk sumber kontaminasi, bukan langsung menjelaskan kenapa seseorang sampai mengalami gangguan ingatan dan kesadaran,” jelasnya.

Dengan demikian, klaim bahwa gangguan ingatan yang dialami Febiola disebabkan kerusakan hipokampus akibat kekurangan oksigen masih membutuhkan bukti klinis. 

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement