JAKARTA — Edukasi seksual sebaiknya diberikan kepada anak sejak usia dini tanpa menunggu usia remaja. Pasalnya, pemahaman mengenai tubuh dan seksualitas justru perlu diperkenalkan sejak dini dan disesuaikan dengan perkembangan usia anak.
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Sani Budiantini Hermawan, S.Psi. menjelaskan, edukasi seksual pada anak pada dasarnya bertujuan membantu mereka mengenali dan memahami tubuhnya. Seiring bertambahnya usia, materi yang diberikan dapat berkembang, termasuk mengenalkan perubahan fisik dan berbagai hal yang berkaitan dengan masa pubertas.
"Jadi sebenarnya edukasi dari hubungan seksual itu diberikan sejak dini, dan dalam rangka untuk anak memahami ketubuhannya," ujar Sani kepada Okezone.
Salah satu langkah awal dalam memberikan edukasi seksual adalah membantu anak memahami tubuhnya. Orang tua dapat mengenalkan bagian-bagian tubuh dengan istilah yang tepat serta menjelaskan bahwa setiap bagian tubuh memiliki fungsi dan harus dijaga.
Pengenalan tersebut menjadi dasar agar anak memiliki pemahaman mengenai tubuhnya sendiri. Dengan begitu, anak juga dapat lebih mudah memahami batasan ketika berinteraksi dengan orang lain.
Edukasi seksual tidak harus langsung membahas hubungan seksual. Pembahasannya dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang sesuai dengan usia anak, kemudian berkembang seiring dengan pertambahan usia dan tingkat pemahamannya.
Ketika memasuki usia preteen, materi edukasi seksual dapat mulai diarahkan pada perubahan yang akan dialami anak saat pubertas. Orang tua perlu mempersiapkan anak agar tidak merasa bingung atau takut ketika mengalami perubahan pada tubuhnya.
Sani menyebutkan, anak dapat mulai diberikan pemahaman mengenai menstruasi dan mimpi basah sebagai bagian dari perubahan alami yang terjadi saat pubertas.
"Kalau masuk ke usia preteen, itu kan anak juga akan diajarkan sebenarnya tentang pubertas. Apa itu mimpi basah, apa itu menstruasi, kemudian ada tata cara," jelasnya.
Menurut Sani, pembahasan tersebut juga dapat dikaitkan dengan kebiasaan dan tanggung jawab anak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks keluarga yang mengaitkan hal tersebut dengan ibadah, anak dapat diberikan pemahaman mengenai tata cara yang perlu dilakukan setelah mengalami menstruasi atau mimpi basah sebelum kembali menjalankan ibadah.
Selain mengenalkan perubahan tubuh, edukasi seksual juga berkaitan dengan bagaimana anak memahami batasan dalam berhubungan dengan orang lain. Anak perlu mengetahui bahwa dirinya memiliki batasan pribadi dan memahami batasan ketika berinteraksi dengan orang lain.
Sani menilai, pemahaman mengenai batasan tersebut juga penting ketika anak mulai memasuki fase memiliki ketertarikan atau hubungan dengan lawan jenis maupun pasangan.
"Kemudian dengan hubungan terhadap pasangan, memang anak di sini harus diberikan juga masukan atas batasan-batasan," kata Sani.
Pemberian edukasi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terbuka. Orang tua dapat menyesuaikan bahasa serta kedalaman informasi dengan usia dan kemampuan anak dalam memahami suatu topik.
Dengan pendekatan tersebut, edukasi seksual tidak hanya menjadi pembahasan mengenai hubungan seksual, tetapi juga menjadi bagian dari proses anak mengenali tubuh, memahami perubahan dirinya, serta belajar menghargai batasan diri dan orang lain.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.