JAKARTA - Banyak orang menganggap keju sebagai makanan yang tinggi kalori dan bisa menyebabkan kenaikan berat badan karena umumnya dibuat dari susu murni. Namun, menurut ahli gizi, kandungan lemak dan kalori bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan saat memilih keju.
Melansir The Standard, ahli gizi asal Inggris, Rob Hobson, menyarankan agar melihat kandungan protein, natrium atau garam, kalsium, serta manfaat nutrisi secara keseluruhan. Berikut tujuh jenis keju yang diurutkan berdasarkan nilai nutrisinya, dari yang paling rendah hingga paling tinggi.
Keju biru memiliki kandungan garam paling tinggi dibandingkan jenis keju lainnya. Satu porsi keju ini mengandung sekitar seperenam dari asupan garam harian yang direkomendasikan. Jumlah tersebut kira-kira dua kali lebih banyak dibandingkan keju cheddar dan lebih dari lima kali lipat dibandingkan keju Swiss atau mozzarella.
Terlalu banyak mengonsumsi garam dapat meningkatkan tekanan darah dan menambah beban kerja sistem kardiovaskular.
Selain itu, kandungan proteinnya membuat keju biru tidak terlalu mengenyangkan dibandingkan beberapa jenis keju lainnya. Akibatnya, kamu mungkin lebih cepat merasa lapar.
Meski begitu, keju biru bisa menjadi pilihan bagi orang yang sensitif terhadap laktosa. Sebagian besar laktosa akan terurai selama proses pematangan sehingga keju ini cenderung lebih mudah ditoleransi oleh orang dengan intoleransi laktosa atau pencernaan yang sensitif.
Keju cheddar termasuk salah satu jenis keju yang tinggi lemak. Kalorinya bahkan sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan keju cottage sehingga sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.
Meskipun memiliki rasa yang gurih dan kuat, kandungan protein dan kalsium dalam keju cheddar relatif lebih rendah dibandingkan beberapa jenis keju lainnya.
Kalau kamu mencari keju yang kaya kalsium, parmesan bisa menjadi salah satu pilihan. Keju parmesan merupakan jenis keju keras yang melalui proses pematangan dan memiliki kandungan air yang sangat rendah. Kondisi tersebut membuatnya termasuk keju dengan kandungan kalsium yang tinggi.
Parmesan juga kaya protein. Sekitar 30 gram parmesan mengandung hampir 10 gram protein, hanya kalah dari keju Swiss.
Namun, parmesan juga memiliki kandungan garam yang cukup tinggi. Jadi, tetap perhatikan jumlahnya, terutama ketika menggunakannya sebagai penambah rasa pada makanan.
Mozzarella memiliki kandungan air yang cukup tinggi sehingga menjadi salah satu pilihan keju yang relatif ringan.
Bahkan mozzarella dengan kandungan lemak penuh tetap memiliki kalori, lemak jenuh, dan natrium yang lebih rendah dibandingkan keju keras. Mengonsumsi dua kali lipat porsinya pun masih menghasilkan kalori yang lebih sedikit dibandingkan setengah porsi cheddar.
Dari sisi nutrisi, mozzarella juga cukup unggul. Dalam porsi kecil, keju ini dapat memberikan protein sekitar dua kali lebih banyak dan kalsium sekitar lima kali lebih banyak dibandingkan susu.
Keju Swiss dikenal kaya akan vitamin B12. Satu porsi keju ini dapat memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan vitamin B12 harian yang direkomendasikan. Vitamin B12 berperan dalam metabolisme energi dan membantu pembentukan sel darah merah.
Keju Swiss juga memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Karena itu, keju ini dapat membuat kenyang lebih lama dibandingkan sebagian besar jenis keju lainnya.
Keju cottage menjadi salah satu pilihan terbaik dalam daftar ini karena memiliki kandungan kalori yang relatif rendah.
Keju ini tidak melalui proses pengepresan dan sering dibuat menggunakan susu rendah lemak. Kandungan airnya yang tinggi juga membuat jumlah kalorinya cukup rendah.
Menariknya, sekitar 100 kalori dari keju cottage dapat memberikan protein yang setara dengan sekitar dua butir telur. Kandungan protein tersebut membuatnya cukup mengenyangkan.
Namun, pilih keju cottage tanpa tambahan rasa. Sebaiknya hindari varian yang dicampur buah atau gula tambahan, seperti varian dengan nanas, karena tambahan gula dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan kerusakan gigi.
Keju rendah lemak bisa menjadi pilihan jika kamu ingin mengurangi asupan kalori dan lemak tanpa harus mengorbankan kandungan proteinnya. Jenis keju ini memiliki kalori dan lemak yang jauh lebih rendah, tetapi tetap mengandung protein dalam jumlah tinggi.
Kandungan kalsiumnya juga umumnya tidak jauh berbeda dari keju versi tinggi lemak. Karena itu, keju rendah lemak bisa menjadi pilihan yang menarik, terutama bagi orang yang sedang berusaha menurunkan persentase lemak tubuh.
Saat memilih keju, jangan hanya terpaku pada jumlah kalori atau kandungan lemaknya. Kandungan protein, garam, kalsium, dan nilai nutrisi secara keseluruhan juga perlu diperhatikan.
Dari tujuh jenis yang dibahas, keju cottage mendapat skor tertinggi, sementara keju biru dan cheddar berada di posisi terbawah. Meski begitu, bukan berarti kamu harus menghindari jenis keju tertentu sepenuhnya.
Kuncinya adalah memperhatikan jenis, porsi, serta kandungan nutrisi keju yang dikonsumsi.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.