JAKARTA - Dokter Indonesia mencatat tonggak baru dalam layanan kesehatan ibu dan anak setelah berhasil melakukan open fetal surgery atau operasi janin terbuka untuk pertama kalinya di Indonesia. Tindakan tersebut dilakukan untuk menangani myelomeningocele, bentuk berat dari spina bifida atau kelainan bawaan pada tulang belakang.
Operasi dilakukan oleh tim multidisiplin RSAB Harapan Kita sebagai National Center for Women and Children’s Health bersama tim Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia. Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menyebut keberhasilan tersebut sebagai terobosan penting dalam perkembangan kedokteran di Indonesia, khususnya untuk menangani kelainan bawaan sejak janin masih berada di dalam kandungan.
“Ini adalah operasi pertama di Indonesia, fetal open surgery, artinya operasi janin secara terbuka ketika masih berada di dalam kandungan. Ini merupakan terobosan yang luar biasa dan semuanya dilakukan oleh dokter-dokter Indonesia,” ujar Wamenkes Prof. Dante, dilansir dari laman Kemenkes, Jumat (28/8/2026).
Myelomeningocele merupakan kelainan bawaan pada tulang belakang dan sistem saraf yang terjadi ketika tulang belakang serta jaringan saraf tidak menutup secara sempurna selama perkembangan janin.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf, kelumpuhan, gangguan fungsi kandung kemih dan usus, serta meningkatkan risiko hidrosefalus.
Kelainan ini dapat dideteksi sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) fetomaternal. Setelah diagnosis ditegakkan dan pasien menjalani serangkaian pemeriksaan serta skrining, termasuk pemeriksaan kelainan genetik, tindakan bedah janin dapat dipertimbangkan sesuai indikasi medis.
Dalam prosedur open fetal surgery, ibu terlebih dahulu diberikan anestesi sebelum dilakukan pembukaan rahim secara terkontrol. Dokter kemudian mengakses janin melalui rahim untuk memperbaiki kelainan myelomeningocele.
Setelah tindakan selesai, janin dikembalikan ke dalam rahim. Selanjutnya, rahim ditutup kembali dan ditempatkan pada posisi semula di dalam tubuh ibu.
Prof. Dante menegaskan, keberhasilan tersebut menunjukkan Indonesia telah memiliki sumber daya manusia dan teknologi yang mampu melakukan layanan kedokteran berteknologi tinggi yang sebelumnya banyak dilakukan di luar negeri.
“Teknologinya sudah luar biasa, skill dokter-dokter kita di Indonesia juga sudah mampu. Ini menjadi kado 17 Agustus bagi dunia kedokteran Indonesia bahwa kita sudah bisa melakukan fetal open surgery pada bayi pertama Indonesia,” ujar Prof. Dante.
Ketua Tim Obstetri dan Ginekologi RSAB Harapan Kita, dr. Gatot Abdurrazak, menjelaskan bahwa kemampuan terapi janin di rumah sakit tersebut telah dikembangkan selama bertahun-tahun.
RSAB Harapan Kita mulai melakukan transfusi intrauterin sejak 2005 dan mengembangkan tindakan fetoskopik sejak 2011. Rumah sakit tersebut juga telah menyediakan berbagai layanan fetal treatment, termasuk vesicoamniotic shunting, thoracoamniotic shunting, serta fetoskopik laser untuk menangani twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS).
Hingga saat ini, sekitar 200 kasus fetoskopik laser telah ditangani di RSAB Harapan Kita.
“Untuk pasien ini, datang dikirim oleh sejawat dengan kelainan spina bifida pada usia kehamilan 18 minggu. Ini menjadi kesempatan untuk melakukan repair karena waktunya hanya sampai 26 minggu. Kami bergerak cepat dan mendapat dukungan penuh dari manajemen serta seluruh tim,” ujar dr. Gatot.
Ketua Tim Bedah Saraf RSAB Harapan Kita, dr. Alfi Aulia Rahmah, menjelaskan bahwa myelomeningocele merupakan bentuk spina bifida yang paling berat. Perbaikan kelainan sejak janin masih berada di dalam kandungan diharapkan dapat mengurangi kerusakan saraf lebih lanjut dan menurunkan risiko komplikasi jangka panjang, termasuk hidrosefalus.
“Pekerjaan ini bukan hanya pekerjaan bedah saraf. Semua memiliki peran yang sangat penting. Pada tindakan intrauterin, yang krusial adalah bagaimana menjaga janin tetap stabil. Apabila janin tidak stabil, operasi harus dihentikan,” jelas dr. Alfi.
Menurutnya, keberhasilan prosedur tersebut sangat bergantung pada kolaborasi berbagai disiplin ilmu, mulai dari dokter bedah saraf, dokter fetomaternal, dokter obstetri dan ginekologi, dokter anestesi, perawat, hingga tenaga penunjang lainnya.
Keberhasilan operasi juga didukung kolaborasi dengan Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia. Maternal Fetal Medicine Dr. Glenn Radford mengatakan kerja sama tersebut dibangun dengan tujuan meningkatkan luaran kesehatan anak dengan spina bifida.
“Yesterday, a historic event here in Indonesia, operating side-by-side with our friends from Harapan Kita, we performed the first surgery, and it went very well. We didn't have any complications,” ujar Dr. Glenn Radford.
Kolaborasi antara tim Indonesia dan Australia diharapkan terus berlanjut untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam melakukan fetal surgery secara mandiri, dengan tetap menempatkan keselamatan ibu dan bayi sebagai prinsip utama.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.