KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan kerusakan pada lingkungan. Asap yang dihasilkan juga dapat membawa berbagai polutan berbahaya yang mengancam kesehatan manusia.
Dokter spesialis paru dan pernapasan, dr. Itna Warnida, Sp.P, FISR, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone mengingatkan bahwa dampak paparan asap karhutla tidak selalu berhenti setelah seseorang keluar dari area yang dipenuhi asap. Paparan karbon monoksida dan partikel berukuran sangat kecil dapat memberikan dampak terhadap paru-paru hingga organ tubuh lainnya.
Berikut 5 efek berbahaya yang perlu diwaspadai setelah terpapar asap karhutla:
Karbon monoksida (CO) merupakan salah satu gas berbahaya yang dapat ditemukan dalam asap hasil pembakaran. Ketika terhirup dalam jumlah tinggi, gas ini dapat mengganggu kemampuan tubuh mendapatkan oksigen.
Menurut dr. Itna, paparan karbon monoksida dalam kondisi berat bahkan dapat menyebabkan seseorang meninggal di tempat. Sementara itu, orang yang berhasil selamat dari paparan berat dapat mengalami dampak akibat tubuh yang sebelumnya mengalami kekurangan oksigen.
Kondisi kekurangan oksigen yang parah berpotensi menyebabkan kerusakan pada organ tubuh dan dapat meninggalkan dampak kesehatan dalam jangka panjang.
“Jadi kondisi kalau kita sempat terhirup karbon monoksida walaupun kita selamat, karbon monoksida itu hati-hati loh bisa meninggal di tempat. Kalau misalkan kita selamat, tubuh kita kan pernah mengalami kondisi kekurangan oksigen yang parah dan itu bisa menyebabkan kerusakan-kerusakan permanen di kemudian harinya,” ujar dr. Itna.
Asap karhutla juga mengandung partikel-partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Salah satunya adalah PM2.5, yaitu partikel dengan ukuran sangat kecil yang dapat mencapai bagian terdalam paru-paru. Bahkan, partikel yang lebih kecil seperti PM0.1 dapat mencapai saluran pernapasan paling ujung hingga alveolus.
Paparan dalam waktu lama dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan pada jaringan paru-paru. Kondisi tersebut dapat berdampak pada penurunan fungsi paru, bahkan setelah seseorang tidak lagi terpapar asap.
“Belum lagi kalau kita bicara PM2.5 atau yang lebih halus lagi PM0.1, dia kan bisa masuk ke ujung paru ke saluran paru yang paling ujung ke alveolus,” jelas dr. Itna.

Bahaya partikel polusi tidak hanya berhenti di paru-paru. Karena ukurannya yang sangat kecil, sebagian partikel dapat mencapai bagian terdalam paru dan berpotensi masuk ke dalam peredaran darah.
Ketika partikel atau respons inflamasi akibat polusi memengaruhi sirkulasi tubuh, dampaknya dapat meluas ke berbagai organ. Hal inilah yang membuat paparan asap karhutla perlu dipandang sebagai masalah kesehatan yang tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan.
“Dia (paparan PM2.5 atau PM0.1) bisa masuk ke peredaran darah. Bayangkan kerusakan yang bisa disebabkannya sampai masuk ke peredaran darah, dia bisa merusak fungsi paru, menurunkan fungsi paru walaupun kita sudah tak perpapar lagi tapi sebelumnya kan kita sudah sempat terpapar dalam waktu yang lama. Dia sudah lengket-lengket di situ sudah menyebar di situ,” tutur dr. Itna.
Paparan polusi udara juga dapat memberikan dampak terhadap sistem kardiovaskular. Menurut dr. Itna, partikel yang berasal dari asap karhutla bukan hanya berpotensi merusak paru-paru, tetapi juga dapat berdampak pada jantung dan organ tubuh lainnya.
Risiko ini menjadi perhatian terutama ketika seseorang mengalami paparan dalam waktu lama atau terpapar polusi dengan konsentrasi tinggi. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menganggap asap karhutla hanya sebagai penyebab batuk atau sesak napas sementara.
“Bukan hanya bisa merusak paru, dia (paparan partikel karhutla) juga bisa merusak secara kardiovaskuler ke jantung dan organ tubuh lain dan itu berbahaya,” ucap dr. Itna.
Dampak paparan polusi udara juga menjadi perhatian dalam kaitannya dengan kanker. dr. Itna menyebutkan bahwa sejumlah penelitian bahkan mengaitkan paparan polutan dengan risiko terjadinya kanker.
Artinya, dampak asap karhutla tidak selalu langsung terlihat. Sebagian efek kesehatan dapat muncul atau berkembang dalam jangka panjang, terutama jika seseorang berulang kali atau dalam waktu lama terpapar polusi udara.
“Beberapa penelitan bahkan menyebutkan bisa menimbulkan kanker,” tutup dr. Itna.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.