PERCERAIAN tidak selalu menjadi akhir dari konflik dalam sebuah hubungan. Bagi sebagian mantan pasangan, perpisahan justru diikuti persoalan baru yang terus bermunculan.
Ketika konflik berlangsung intens, berulang, dan sulit menemukan penyelesaian, kondisi tersebut kerap disebut sebagai high conflict divorce. Lantas, apa itu high conflict divorce?
Psikolog klinis dewasa, Hersa Aranti, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan bahwa high conflict divorce merupakan pola konflik yang terus berkelanjutan setelah perceraian. Konflik biasanya berlangsung dengan intensitas tinggi dan dalam jangka waktu yang panjang.
Menurut Hersa, konflik tersebut dapat berpindah dari satu persoalan ke persoalan lainnya. Ketika satu topik telah selesai dibahas, persoalan baru dapat kembali memicu konflik.
“High conflict divorce adalah pola konflik yang terus berkelanjutan, yang biasanya secara intens, berkepanjangan,” jelas Hersa.
“Kalau satu topik selesai akhirnya konfliknya pindah ke topik lain gitu yang terjadi sebenarnya setelah perceraian terjadi gitu. Itu yang akhirnya disebut dengan high conflict divorce,” lanjutnya.
Konflik setelah perceraian sebenarnya merupakan hal yang cukup wajar. Perceraian membawa banyak perubahan dalam kehidupan seseorang, mulai dari perubahan rutinitas hingga pola komunikasi dengan mantan pasangan.
Terlebih, apabila pasangan memiliki anak. Setelah berpisah, keduanya tetap perlu berkoordinasi mengenai pengasuhan, kebutuhan, dan berbagai kepentingan anak. Namun, terdapat perbedaan antara konflik pasca-perceraian yang wajar dengan high conflict divorce.
Menurut Hersa, konflik yang masih berada dalam batas wajar biasanya memiliki penyelesaian. Setelah terjadi perbedaan pendapat, pasangan akhirnya dapat menemukan titik temu atau kesepakatan.
“Jadi konflik yang terjadi setelah perceraian itu sebenarnya sangat wajar gitu ya. Biasanya kan pasti akan banyak perubahan nih, perubahan rutinitas. Apalagi kalau sudah ada anak harus akhirnya koordinasi masalah anak gitu, jadi sebenarnya balik lagi konflik ini wajar,” jelas Hersa.
“Yang akhirnya membedakan adalah konflik yang wajar itu adalah konflik yang ujung-ujungnya terjadi penyelesaian konflik. Jadi perbedaannya dari segi pola di mana konflik itu ada ujungny. Kalau konflik yang tadi never ending itu akhirnya konflik yang tidak ada penyelesaiannya, tidak ada kesepakatan apa pun, tetap ongoing,” lanjutnya.
Sementara itu, pada high conflict divorce, konflik cenderung tidak memiliki ujung yang jelas. Persoalan dapat terus berlanjut meskipun topik yang diperdebatkan sudah berganti. Selain berlangsung lebih lama, konflik semacam ini biasanya memiliki frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan konflik biasa.
“Balik lagi kalau dari satu topik misalnya pun ada penyelesaian ternyata konflik terjadi di topik-topik lain. Jadi konfliknya berlanjut meskipun topiknya sih itu berbeda-beda gitu. Itu yang akhirnya membedakan. Dan biasanya memang lebih intens dari durasi lebih lama, dari frekuensi juga lebih banyak. Jadi ibaratnya versi lebih intensnya daripada konflik-konflik biasa gitu,” jelas Hersa.

Tidak semua pasangan yang bercerai kemudian terus bermusuhan. Ada pula mantan pasangan yang mampu menjalani kehidupan masing-masing dengan damai.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, mereka dapat tetap berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik. Utamanya hal ini terjadi jika masih memiliki tanggung jawab bersama terhadap anak.
Hersa menjelaskan, salah satu hal yang membedakan adalah posisi emosional masing-masing pihak dalam menerima berakhirnya hubungan. Pasangan yang dapat menjalani kehidupan setelah perceraian dengan lebih damai umumnya sudah mencapai tahap penerimaan. Mereka memahami bahwa hubungan tersebut memang berakhir karena terdapat perbedaan yang tidak dapat lagi disatukan.
“Mencapai titik penerimaan bahwa kondisinya memang seperti ini, kami memang berbeda, ada value-value yang tidak bisa disatukan,” jelas Hersa
“Jadi yang berbeda itu adalah posisi di perjalanan akhirnya hubungannya, di mana pasangan yang akhirnya sudah bercerai dan akhirnya dengan damai biasanya sudah mencapai titik keduanya itu mendapatkan sebuah penerimaan gitu,” lanjutnya.
“Mencapai titik penerimaan bahwa oke kondisinya tuh memang seperti ini, kami memang berbeda misalnya, ada value-value yang tidak bisa disatukan dan oke gitu. Jadi sudah di tahap yang akhirnya memahami kondisinya seperti apa, kemudian menerima juga kondisinya seperti apa. Keduanya akhirnya ingin oke deh kita melanjutkan kehidupan dengan memahami bahwa kenapa akhirnya kita harus berpisah dan tanpa akhirnya ada emosi yang masih tertinggal gitu,” tutur Hersa.
“Sementara yang mungkin masih akhirnya ada ongoing conflict biasanya mungkin ada isu-isu yang akhirnya masih belum selesai jadi sudah bukan di gimana kita membuat perjalanan ini menjadi perjalanan yang lancar, tapi akhirnya masih berkutik pada siapa yang benar, siapa yang salah, value mana yang akhirnya lebih tepat, mana yang akhirnya perlu berkompromi, mana yang perlu dimenangkan,” sambungnya.
“Jadi seperti itu tuh masih ada di tahap yang akhirnya memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Biasanya kalau kayak gitu apalagi masih ada emosi-emosi yang tertinggal gitu ya ada ucapan-ucapan yang akhirnya menimbulkan luka, itu kan hal-hal yang akhirnya mungkin masih belum selesai dan akhirnya mempengaruhi di dinamika, interaksi dan pola komunikasinya juga,” tutup Hersa.
Dari penjelasan tersebut, salah satu kunci yang membedakan perceraian yang dapat berlangsung damai dengan high conflict divorce adalah kemampuan kedua pihak untuk menerima kenyataan bahwa hubungan mereka telah berakhir.
Perceraian memang dapat membawa perubahan besar dan tidak selalu mudah dijalani. Namun, ketika kedua pihak mampu menerima kondisi tersebut, memahami alasan perpisahan, serta berhenti berfokus pada pertanyaan mengenai siapa yang paling benar, peluang untuk membangun hubungan pasca-perceraian yang lebih sehat dapat menjadi lebih besar.
Terlebih, bagi pasangan yang memiliki anak, kemampuan mengelola konflik menjadi semakin penting. Meskipun hubungan sebagai suami dan istri telah berakhir, keduanya tetap memiliki peran sebagai orang tua.
Pada akhirnya, perceraian bukan berarti seluruh komunikasi harus berhenti. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana kedua pihak dapat mengelola emosi dan konflik sehingga persoalan masa lalu tidak terus terbawa ke dalam kehidupan setelah perpisahan.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.