“Dan itu pada akhirnya menunjukkan seberapa pas, seberapa akurat penanganan nakes itu terhadap pasiennya. Nah ini juga mungkin nanti ke depan bisa saja dengan pemanfaatan AI secara langsung bisa menilai kualitas dari dokter-dokter yang ada di fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Namun demikian, Eko menekankan bahwa pemanfaatan AI tersebut sangat bergantung pada kualitas data yang tersedia. Menurutnya, AI tidak akan bekerja secara optimal apabila data kesehatan yang menjadi fondasinya belum tertata dengan baik.
Karena itu, Kemenkes saat ini terus mendorong penguatan dan integrasi data kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
Data dari rumah sakit, puskesmas, klinik, laboratorium hingga praktik mandiri akan secara bertahap dikoneksikan dengan ekosistem digital kesehatan nasional.
Eko menyebut saat ini sekitar 95 persen rumah sakit telah terkoneksi dan mengirimkan data ke Kemenkes. Untuk puskesmas, tingkat koneksinya sudah mencapai sekitar 92 persen.
Sementara klinik berada di kisaran 60 persen, laboratorium kesehatan 44 persen, dan fasilitas praktik mandiri sekitar 20 persen.