JAKARTA — Penis yang tiba-tiba kehilangan ereksi ketika sedang berhubungan seksual dapat membuat pria merasa khawatir. Kondisi ini bisa terjadi sesekali dan belum tentu menandakan adanya penyakit tertentu. Namun, jika kejadian tersebut berulang, ada baiknya mencari tahu faktor yang mungkin menjadi pemicunya.
Kemampuan penis untuk tetap ereksi dipengaruhi oleh banyak sistem dalam tubuh, mulai dari aliran darah, saraf, hormon, hingga kondisi psikologis. Gangguan pada salah satu faktor tersebut dapat menyebabkan ereksi sulit dipertahankan, demikian dilansir dari laman Hims.
1. Masalah Kardiovaskular
Ereksi sangat bergantung pada kelancaran aliran darah menuju penis. Karena itu, gangguan pada sistem kardiovaskular dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi.
Penyakit jantung, aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah, serta tekanan darah tinggi dapat mengganggu fungsi pembuluh darah. Akibatnya, penis mungkin tidak mendapatkan aliran darah yang cukup untuk mempertahankan ereksi.
Dalam beberapa kasus, disfungsi ereksi juga dapat menjadi tanda awal adanya masalah pada pembuluh darah atau kesehatan jantung.
2. Diabetes dan Penyakit Ginjal
Diabetes dan penyakit ginjal kronis dapat berdampak pada kesehatan pembuluh darah maupun saraf. Keduanya berpotensi mengganggu mekanisme yang diperlukan untuk menghasilkan dan mempertahankan ereksi.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang, misalnya, dapat menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi fungsi seksual pria.
3. Gangguan pada Sistem Saraf
Ereksi tidak hanya bergantung pada penis dan pembuluh darah, tetapi juga membutuhkan kerja sistem saraf yang baik.
Gangguan neurologis tertentu, seperti multiple sclerosis (MS), dapat memengaruhi sinyal saraf yang berhubungan dengan fungsi seksual. Pada sebagian penderita, kondisi tersebut juga dapat menyebabkan berkurangnya sensasi pada penis dan kesulitan mencapai orgasme.
Karena itu, gangguan ereksi yang muncul bersama gejala neurologis lain sebaiknya diperiksakan kepada dokter.
4. Ketidakseimbangan Hormon
Hormon memiliki peran dalam mengatur gairah seksual. Salah satu hormon yang penting bagi fungsi seksual pria adalah testosteron.
Kadar testosteron yang rendah dapat berkaitan dengan penurunan libido dan gangguan fungsi seksual. Ketika gairah seksual menurun, kemampuan mempertahankan ereksi juga dapat ikut terpengaruh.
Namun, rendahnya testosteron bukan satu-satunya penyebab disfungsi ereksi. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan apakah gangguan hormon memang menjadi faktor pemicunya.
5. Cedera atau Gangguan pada Penis
Cedera pada penis atau area sekitarnya dapat memengaruhi kemampuan pria mendapatkan maupun mempertahankan ereksi.
Salah satu kondisi yang berkaitan dengan perubahan bentuk dan fungsi penis adalah penyakit Peyronie. Kondisi ini terjadi ketika terbentuk jaringan parut pada penis sehingga ereksi dapat menjadi melengkung dan pada sebagian kasus terasa nyeri.
Kerusakan saraf akibat cedera atau tindakan operasi tertentu juga dapat memengaruhi fungsi ereksi.
6. Merokok dan Produk Nikotin
Merokok dapat berdampak buruk pada pembuluh darah, sementara nikotin dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Padahal, aliran darah yang baik sangat diperlukan untuk menghasilkan ereksi.
Kebiasaan merokok juga meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular yang dapat berkaitan dengan disfungsi ereksi.
Menghentikan kebiasaan merokok dapat membantu menjaga kesehatan pembuluh darah dan mendukung fungsi seksual dalam jangka panjang.
7. Konsumsi Alkohol Berlebihan
Minum alkohol dalam jumlah banyak dapat membuat penis lebih sulit mempertahankan ereksi. Alkohol dapat menekan kerja sistem saraf pusat dan memengaruhi respons tubuh terhadap rangsangan seksual.
Selain itu, konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi dan dalam kondisi tertentu berkaitan dengan perubahan kadar hormon.
Karena itu, pria yang kerap mengalami masalah ereksi setelah minum alkohol sebaiknya memperhatikan jumlah dan frekuensi konsumsinya.
8. Kelebihan Berat Badan atau Obesitas
Berat badan berlebih dan obesitas berkaitan dengan peningkatan risiko disfungsi ereksi. Kondisi ini juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan kesehatan lain, seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular.
Berbagai masalah tersebut dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah, hormon, dan metabolisme yang semuanya berperan dalam fungsi seksual.
Menjaga berat badan dalam rentang sehat melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan ereksi.
9. Penggunaan Steroid
Penggunaan steroid anabolik atau testosteron dari luar tubuh dapat memengaruhi keseimbangan hormon alami.
Meskipun penggunaan testosteron atau steroid tertentu dapat memberikan efek terhadap gairah seksual dalam jangka pendek, penggunaan tanpa pengawasan medis dapat mengganggu produksi hormon alami tubuh. Setelah penggunaan dihentikan, sebagian pria dapat mengalami gangguan fungsi seksual.
Karena itu, penggunaan hormon atau steroid sebaiknya tidak dilakukan sembarangan dan harus berdasarkan indikasi medis.
10. Efek Samping Obat
Sejumlah obat dapat memengaruhi gairah seksual atau kemampuan mempertahankan ereksi sebagai efek samping.
Beberapa kelompok obat yang berpotensi memengaruhi fungsi seksual antara lain obat antidepresan, obat anti-kecemasan, obat tekanan darah, antihistamin, obat tertentu untuk gangguan tidur, obat yang memengaruhi hormon, serta beberapa jenis obat untuk kondisi medis lainnya.
Jika gangguan ereksi muncul setelah mulai mengonsumsi obat tertentu, jangan langsung menghentikan pengobatan. Konsultasikan dengan dokter karena dosis mungkin dapat disesuaikan atau obat dapat diganti dengan alternatif yang lebih sesuai.
11. Penggunaan Narkoba Rekreasional
Zat terlarang juga dapat mengganggu fungsi seksual. Beberapa jenis narkoba, seperti amfetamin, barbiturat, ganja, kokain, dan heroin, dapat memengaruhi sistem saraf maupun pembuluh darah.
Dampaknya dapat berupa perubahan gairah seksual, kesulitan mendapatkan ereksi, atau kesulitan mempertahankannya.
Jika penggunaan zat sudah sulit dikendalikan dan mulai berdampak pada kesehatan atau kehidupan sehari-hari, mencari bantuan tenaga kesehatan merupakan langkah penting.
12. Depresi, Stres, dan Kecemasan
Faktor psikologis merupakan salah satu penyebab yang tidak boleh diabaikan. Depresi, stres, kecemasan, rasa takut, hingga rasa bersalah terkait aktivitas seksual dapat memengaruhi kemampuan mempertahankan ereksi.
Kecemasan performa, misalnya, dapat membuat pria terlalu fokus pada apakah dirinya mampu mempertahankan ereksi. Kondisi tersebut justru dapat mengganggu respons seksual dan membuat ereksi menghilang.
Bahkan stres yang sifatnya sementara dapat memengaruhi gairah dan kemampuan seseorang untuk menikmati hubungan seksual.
Kehilangan ereksi sesekali tidak selalu berarti adanya disfungsi ereksi. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh kelelahan, stres, konsumsi alkohol, atau gangguan konsentrasi saat berhubungan seksual.
Namun, jika penis sering tiba-tiba loyo, sulit mempertahankan ereksi, atau kondisi tersebut mulai mengganggu kehidupan seksual, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
Pemeriksaan dapat membantu mengetahui apakah penyebabnya berkaitan dengan kondisi medis, obat-obatan, gaya hidup, atau faktor psikologis. Penanganan pun dapat disesuaikan dengan penyebab yang ditemukan.
Yang terpenting, jangan merasa malu untuk membicarakan masalah ereksi dengan tenaga medis. Gangguan tersebut cukup umum dan dalam banyak kasus dapat ditangani setelah penyebabnya diketahui.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.