JAKARTA - Ukuran penis kerap dikaitkan dengan berbagai anggapan tentang kejantanan, performa seksual, hingga kesuburan pria. Salah satu yang cukup sering dipercaya adalah anggapan bahwa penis yang lebih panjang membuat seorang pria lebih subur.
Padahal, ukuran penis bukanlah penentu utama kemampuan reproduksi. Kesuburan pria lebih banyak dipengaruhi oleh kualitas dan jumlah sperma, fungsi organ reproduksi, kondisi hormonal, serta berbagai faktor kesehatan lainnya.
Melansir laman Hims, selain soal kesuburan, ada sejumlah mitos lain mengenai ukuran penis yang masih banyak dipercaya. Berikut penjelasannya.
Anggapan bahwa penis berukuran besar pasti memberikan kepuasan seksual yang lebih tinggi belum didukung bukti yang cukup kuat.
Kepuasan seksual tidak hanya ditentukan oleh ukuran penis. Hubungan emosional, komunikasi dengan pasangan, teknik seksual, serta pemanasan yang cukup juga dapat berperan penting dalam menciptakan pengalaman seksual yang menyenangkan.
Pada sebagian pasangan, penis dengan ukuran lebih besar mungkin memberikan sensasi yang berbeda. Namun, ukuran yang terlalu besar juga berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman apabila tidak sesuai dengan kondisi anatomi pasangan atau hubungan seksual dilakukan tanpa persiapan yang memadai.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa lingkar penis mungkin memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan panjang penis terhadap kepuasan seksual sebagian wanita. Meski demikian, preferensi setiap orang berbeda sehingga tidak ada satu ukuran yang dapat dianggap ideal untuk semua pasangan.
Ini merupakan salah satu mitos yang perlu diluruskan. Ukuran penis pada umumnya tidak menentukan tingkat kesuburan seorang pria.
Kemampuan seorang pria untuk membuahi sel telur terutama berkaitan dengan kualitas sperma, termasuk jumlah, bentuk, dan kemampuan sperma untuk bergerak. Kondisi kesehatan, kadar hormon, fungsi testis, gaya hidup, serta gangguan pada sistem reproduksi juga dapat memengaruhi kesuburan.
Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian adalah mikropenis. Istilah tersebut bukan sekadar menggambarkan penis yang berukuran kecil, melainkan kondisi medis ketika panjang penis secara signifikan berada di bawah ukuran rata-rata berdasarkan standar medis.
Dalam beberapa kasus, mikropenis dapat berkaitan dengan gangguan hormonal atau kondisi tertentu yang juga dapat memengaruhi fungsi reproduksi. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa setiap pria dengan penis kecil mengalami masalah kesuburan.
Ukuran penis tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan tingkat maskulinitas seorang pria.
Maskulinitas merupakan konsep yang luas dan subjektif. Ukuran organ genital juga tidak dapat digunakan sebagai indikator langsung kadar testosteron pada pria dewasa.
Dengan kata lain, penis yang lebih besar tidak otomatis menunjukkan kadar testosteron yang lebih tinggi atau tingkat kejantanan yang lebih besar.
Jawabannya adalah tidak. Panjang penis bukan faktor utama yang menentukan kesuburan pria.
Kesuburan lebih berkaitan dengan kondisi sperma dan kesehatan sistem reproduksi secara keseluruhan. Oleh karena itu, pria yang ingin mengetahui tingkat kesuburannya sebaiknya menjalani pemeriksaan medis, termasuk analisis sperma bila diperlukan, bukan menilai dari ukuran penis.
Pada akhirnya, ukuran penis juga bukan satu-satunya faktor yang menentukan kepuasan dalam hubungan seksual. Komunikasi, kenyamanan, keintiman, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasangan justru memiliki peran penting dalam membangun kehidupan seksual yang sehat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.