JAKARTA — Napas terengah-engah setelah melakukan aktivitas ringan seperti menaiki tangga atau berjalan cepat sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai tanda tubuh kelelahan. Terlebih bagi perokok, keluhan tersebut dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada sistem pernapasan yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Dokter Spesialis Paru sekaligus Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Erlina Burhan, menjelaskan bahwa kerusakan paru-paru akibat paparan asap rokok dapat berlangsung secara perlahan. Kondisi tersebut bahkan bisa terjadi sebelum seseorang menyadari adanya perubahan pada kemampuan bernapas.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Prof. Erlina memaparkan bagaimana asap rokok dapat mengganggu fungsi saluran pernapasan, mulai dari merusak silia hingga memengaruhi alveoli yang berperan dalam pertukaran oksigen.
“Semuanya berawal dari silia, rambut halus di saluran napas yang bertugas menyapu keluar lendir dan kotoran. Asap rokok melumpuhkan silia ini, lendir pun menumpuk dan memicu peradangan, dan di titik inilah batuk mulai lebih sering muncul,” ujar Prof. Erlina.
Kerusakan tidak berhenti pada saluran pernapasan. Paparan zat berbahaya dari asap rokok juga dapat mencapai alveoli, yakni kantung-kantung udara kecil di paru-paru yang menjadi tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
“Sementara itu, racun rokok terus menyusup sampai ke alveoli, kantung kecil tempat oksigen diserap tubuh. Dinding alveoli perlahan rusak dan kehilangan kelenturannya, sehingga tubuh makin sulit mendapat oksigen yang cukup, terutama saat beraktivitas,” jelasnya.
Jika berlangsung dalam waktu lama, kerusakan dan peradangan pada saluran pernapasan dapat meningkatkan risiko terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Kondisi ini dapat menyebabkan saluran napas mengalami penyempitan dan membuat seseorang semakin kesulitan bernapas.
“Kalau dibiarkan bertahun-tahun, saluran napas yang meradang akan menyempit secara permanen, kondisi yang disebut PPOK. Berbeda dari sesak biasa yang hilang setelah istirahat, sesak akibat PPOK terus memberat dan sulit pulih meski Anda berhenti merokok,” papar Prof. Erlina.
Pada kondisi tertentu, gangguan pada paru-paru juga dapat disertai komplikasi seperti efusi pleura, yaitu penumpukan cairan di ruang antara paru-paru dan dinding dada. Kondisi tersebut dapat menghambat paru-paru mengembang secara optimal dan membuat penderitanya mengalami sesak napas.
Karena itu, Prof. Erlina mengingatkan masyarakat, terutama perokok yang mulai mengalami keluhan pernapasan, untuk tidak mengabaikan gejala tersebut. Pemeriksaan sejak dini diperlukan untuk mengetahui kondisi paru-paru dan menentukan penanganan yang sesuai.
“Jadi kalau sesak mulai terasa, periksakan diri ke spesialis paru sebelum semuanya terlambat,” pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.