Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mitos atau Fakta: Sauna Bisa Tingkatkan Imunitas Tubuh?

Niko Prayoga , Jurnalis-Senin, 03 Agustus 2026 |19:10 WIB
Mitos atau Fakta: Sauna Bisa Tingkatkan Imunitas Tubuh?
Mitos atau Fakta: Sauna Bisa Tingkatkan Imunitas Tubuh? (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA Sauna kerap menjadi pilihan untuk relaksasi dan pemulihan tubuh setelah berolahraga. Selain membuat tubuh terasa lebih rileks, muncul anggapan bahwa rutin berendam di ruang bersuhu panas juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Namun, benarkah manfaat sauna sebesar itu?

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, dalam unggahan video di kanal YouTube miliknya menjelaskan bahwa manfaat sauna tidak bisa disamaratakan untuk semua orang. Efektivitasnya bergantung pada jenis aktivitas fisik yang dilakukan sebelumnya.

"Ini jawabannya ku kasih tahu. Jawabannya depends. Sauna itu biasa dilakukan oleh orang-orang yang habis angkat beban," kata dr. Tirta.

Hasil Penelitian

Ia menjelaskan, sejumlah penelitian menunjukkan sauna bermanfaat bagi mereka yang menjalani latihan beban (strength training). Paparan suhu panas setelah latihan dinilai dapat meningkatkan aliran darah ke otot sehingga membantu proses pemulihan dan pertumbuhan massa otot.

"Jurnal pertama adalah jurnal yang mendukung bahwa sauna yang dilakukan habis angkat beban, itu ternyata efektif buat pertumbuhan otot. Karena terjadi pembesaran pembuluh darah kapiler sehingga meningkatkan aliran darah ke otot yang membuat otot tersebut berkembangnya menjadi cepat," jelasnya.

Sebaliknya, bagi mereka yang baru menyelesaikan olahraga kardio berintensitas tinggi, seperti lari jarak jauh (long run), CrossFit, atau Hyrox, metode pemulihan yang lebih dianjurkan adalah ice bath.

"Jurnal kedua, bahwa ice bath selama dua sampai tiga menit itu bagus untuk meredakan ketegangan atau peradangan akut bagi orang yang melakukan aktivitas high-intensity cardio. Itu justru kalau dia mencelupkan dirinya ke dalam ice bath dua sampai tiga menit, bisa mengurangi peradangan akutnya," tambah dr. Tirta.

Selain itu, ia juga menyinggung metode hot and cold therapy, yakni mengombinasikan ice bath dengan sauna. Menurutnya, metode ini juga memiliki manfaat dalam membantu pemulihan otot setelah latihan beban apabila dilakukan dengan tepat.

Meski menawarkan berbagai manfaat, dr. Tirta mengingatkan agar penggunaan sauna tidak dilakukan secara berlebihan. Paparan suhu panas dalam durasi terlalu lama justru dapat berdampak negatif terhadap kesehatan reproduksi pria, terutama kualitas sperma.

"Tapi, sauna yang terlalu sering dan terlalu lama, misalkan lebih dari 40 menit atau lebih dari 15 menit dan dilakukan terus-terusan, itu justru mengganggu kinerja sperma pada testis," tegasnya.

Menurut dr. Tirta, testis merupakan organ yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Karena itu, paparan panas yang berlebihan, termasuk saat terlalu lama berada di sauna, dapat memengaruhi proses pembentukan sperma.

"Maka buat teman-teman yang sauna, boleh, tapi enggak sampai sejam dua jam juga. Mau ngapain juga sauna sejam? Orang sauna itu biasanya habis yoga atau habis angkat beban. Habis lari itu jarang orang sauna, habis lari ya ice bath," pungkas dr. Tirta.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement