JAKARTA – Kehilangan orangtua merupakan salah satu pengalaman paling berat yang dapat dialami seorang anak. Peristiwa ini tidak hanya memicu kesedihan mendalam, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional, perilaku, hingga kesehatan fisik mereka. Karena itu, dukungan keluarga, komunikasi yang jujur, serta pendampingan yang tepat menjadi kunci agar anak mampu melewati masa berduka dengan lebih sehat.
Melansir laman Raising Children, setiap anak memiliki cara berbeda dalam menghadapi kehilangan. Mereka bisa merasa sedih, marah, bingung, takut, atau bahkan menyalahkan diri sendiri atas kematian orangtuanya. Sebagian anak juga menjadi cemas terhadap keselamatan pengasuh atau anggota keluarga lain karena khawatir akan kehilangan mereka.
Reaksi yang muncul dapat berupa perubahan perilaku, seperti:
Sebagian anak juga dapat menunjukkan perubahan lain, seperti:
Selain perubahan perilaku, anak dapat mengalami keluhan fisik maupun psikologis, di antaranya sakit kepala, sakit perut, perubahan nafsu makan, kecemasan, hingga gangguan tidur dan mimpi buruk. Ada pula anak yang tampak tidak menunjukkan reaksi apa pun. Kondisi ini juga merupakan respons yang normal.
Cara anak memahami kehilangan dipengaruhi oleh usia, tingkat perkembangan, pengalaman hidup, keyakinan mengenai kematian, serta dukungan yang diterimanya dari keluarga dan lingkungan.
Apabila kematian terjadi akibat peristiwa traumatis, seperti kecelakaan atau bunuh diri, dampak psikologis pada anak umumnya lebih besar sehingga diperlukan bantuan profesional.
Anak sebaiknya memperoleh kabar mengenai meninggalnya orangtua dari anggota keluarga terdekat sesegera mungkin. Sampaikan informasi secara jujur, sederhana, dan sesuai dengan usia anak di tempat yang tenang dan membuatnya merasa aman.
Beberapa contoh penjelasan yang dapat digunakan antara lain:
"Jantung Ayah berhenti berdetak sehingga tubuhnya tidak bisa bekerja lagi dan Ayah meninggal."
"Ibu mengalami kecelakaan yang sangat berat. Dokter sudah berusaha menolong, tetapi tubuh Ibu tidak bisa bertahan sehingga beliau meninggal."
Hindari menggunakan istilah yang membingungkan seperti "tidur selamanya" karena dapat menimbulkan kesalahpahaman pada anak.
Anak mungkin akan mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali. Berikan jawaban dengan sabar karena proses memahami kematian membutuhkan waktu dan akan berkembang seiring bertambahnya usia mereka.
Melibatkan anak dalam proses pemakaman dapat membantu mereka memahami kenyataan bahwa orangtuanya telah meninggal. Namun, keputusan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kesiapan anak.
Jika anak mengikuti prosesi pemakaman, beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
Proses berduka tidak selesai dalam hitungan hari atau minggu. Anak membutuhkan dukungan dalam jangka panjang.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan keluarga antara lain:
Momen tertentu seperti ulang tahun, Hari Ibu, Hari Ayah, atau peringatan kematian sering kali memunculkan kembali rasa kehilangan. Merencanakan aktivitas bersama pada hari-hari tersebut dapat membantu anak merasa lebih tenang.
Kematian orangtua sering kali membawa perubahan besar dalam kehidupan keluarga, seperti berpindah rumah, berganti sekolah, perubahan kondisi ekonomi, hingga perubahan pengasuh.
Dalam situasi tersebut, mempertahankan rutinitas harian menjadi salah satu cara terbaik untuk membantu anak beradaptasi. Rutinitas memberikan rasa aman karena membuat kehidupan tetap terasa teratur dan dapat diprediksi.
Jika diperlukan, mintalah bantuan keluarga atau teman untuk membantu menjalankan rutinitas, misalnya mengantar anak ke sekolah atau membantu kebutuhan sehari-hari.
Pendampingan dari psikolog, psikiater, atau konselor dapat dipertimbangkan apabila anak mengalami kesulitan mengatasi kesedihan, menunjukkan perubahan perilaku yang berkepanjangan, atau tampak mengalami gangguan emosional yang menghambat aktivitas sehari-hari.
Dokter juga dapat memberikan arahan mengenai layanan kesehatan mental yang sesuai dengan kondisi anak. Selain itu, sekolah, konselor, maupun komunitas pendamping keluarga berduka juga dapat menjadi sumber dukungan yang bermanfaat.
Di samping mendampingi anak, pengasuh atau anggota keluarga yang ditinggalkan juga perlu menjaga kesehatan mentalnya sendiri. Orang dewasa yang mampu mengelola kesedihan dengan baik akan lebih siap memberikan rasa aman dan dukungan emosional kepada anak selama proses berduka.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.