Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Studi: Penggunaan AI Tanpa Batas Berisiko Mengikis Daya Ingat

Niko Prayoga , Jurnalis-Minggu, 26 Juli 2026 |08:02 WIB
Studi: Penggunaan AI Tanpa Batas Berisiko Mengikis Daya Ingat
Ilustrasi penggunaan AI. (Foto: dok Magnific)
A
A
A

JAKARTA — Tren penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah merambah masif ke berbagai lini kehidupan di Indonesia. Di dunia pendidikan, baik tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi, keberadaan platform AI seperti ChatGPT sudah menjadi sahabat harian para pelajar dan mahasiswa untuk menyelesaikan berbagai tugas akademik.

Kendati menawarkan kemudahan dan efisiensi serba instan, tren ini menyimpan ancaman tersembunyi yang patut diwaspadai. Penggunaan AI yang terlalu memanjakan penggunanya berisiko menimbulkan penurunan fungsi kognitif, khususnya dalam hal mempertahankan daya ingat atau memori jangka panjang.

Ancaman tersebut dibuktikan secara ilmiah melalui sebuah studi terbaru yang diterbitkan oleh penerbit ilmiah Elsevier dalam jurnal Social Sciences & Humanities Open (Volume 12, 2025) berjudul “ChatGPT as a Cognitive Crutch: Evidence From a Randomized Controlled Trial on Knowledge Retention".

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bantuan AI secara serampangan atau tanpa batasan terbukti secara signifikan mengikis kemampuan otak dalam menyimpan informasi. Penelitian berbasis uji coba terkontrol acak (randomized controlled trial) tersebut melibatkan 120 mahasiswa. 

Para peserta dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama diizinkan menggunakan ChatGPT sebagai alat bantu belajar, sementara kelompok kedua hanya mengandalkan metode belajar konvensional tanpa intervensi AI. Setelah proses pembelajaran usai, para peneliti melakukan pengujian mendadak (surprise test) secara berkala setelah 45 hari untuk mengukur seberapa banyak materi yang masih tersimpan di dalam ingatan mereka.

Hasilnya cukup mengejutkan, kelompok mahasiswa yang mengandalkan ChatGPT hanya mampu meraih rata-rata skor retensi pengetahuan sebesar 57,5 persen. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan kelompok mahasiswa yang belajar secara mandiri/tradisional, yang berhasil mencatatkan rerata skor hingga 68,5 persen. Selisih kinerja hingga 11 poin persentase ini memperlihatkan bahwa kemudahan yang diberikan AI menciptakan jurang penurunan daya ingat yang nyata.

Mengutip penjelasan dalam temuan jurnal tersebut, fenomena ini terjadi akibat proses yang disebut pelepasan beban kognitif (cognitive offloading). Ketika seseorang mendapatkan jawaban komprehensif secara serba cepat dari AI, otak cenderung melewatkan tantangan atau productive struggle yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk membentuk ingatan jangka panjang.

Secara teoritis, pemahaman yang mendalam memerlukan proses berpikir yang membutuhkan usaha (effortful process). Saat proses berpikir kritis ini diambil alih oleh teknologi, ikatan memori pada otak menjadi lebih lemah sehingga informasi yang didapat lebih cepat terlupakan.

Dampak negatif ini bahkan terbukti konsisten terjadi pada berbagai topik pelajaran dan tidak berkurang meskipun mahasiswa tersebut sudah sangat mahir menggunakan teknologi AI.

Hal lain yang memprihatinkan dari ketergantungan pada AI adalah munculnya ilusi pemahaman atau 'titik buta metakognitif'. Kondisi ini membuat seseorang kerap mengelirukan kelancaran dan kecanggihan jawaban yang dihasilkan oleh AI sebagai bentuk pemahaman personal mereka sendiri. Padahal, otak mereka sebenarnya belum benar-benar mencerna atau menguasai materi tersebut.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement