PEMERINTAH melalui Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029. Perpres ini ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 24 Oktober 2025.
Dalam lampiran peraturan tersebut, penyebaran lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer atau questioning (LGBTQ) dicantumkan sebagai salah satu contoh ancaman nonmiliter dalam dimensi sosial dan budaya bersama berbagai ancaman lain seperti radikalisme, perang informasi, judi daring, perdagangan ilegal, hingga penyalahgunaan narkoba.

"Ancaman nonmiliter berupa usaha atau kegiatan tanpa bersenjata yang membahayakan dan mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa," tulis beleid tersebut.
"Ancaman tersebut berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya, teknologi, keselamatan umum, dan legislasi antara lain penyebaran ideologi terlarang, lunturnya nilai nasionalisme dan penyebaran paham ateisme, separatisme, terorisme, radikalisme, perang informasi, krisis ekonomi, judi daring, pinjaman daring ilegal, perdagangan ilegal (illegal trafficking), perompakan, pencurian kekayaan alam, peredaran dan penyalahgunaan obat terlarang, dan penyebaran budaya Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer (LGBTQ)," sambung beleid tersebut.

Isu LGBTQ memang kini menjadi perhatian publik. Pertanyaan soal mengapa LGBTQ bisa terjadi dan marak bermunculan saat ini pun terus berembus.
dr. Fikri Aditya yang sering membagikan edukasi kesehatan di media sosial turut membongkar penyebab LGBTQ bisa terjadi. Lewat unggahan di akun Tiktoknya, dia mengungkapnya penyebab orang menjadi LGBTQ salah satunya adalah adiksi porno.
Adiksi porno adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu mengendalikan kebiasaan mengonsumsi materi pornografi. Hal ini menjadi adiksi perilaku yang mengubah cara kerja otak, sehingga penderitanya selalu membutuhkan stimulasi yang lebih besar dan sering untuk merasa puas.
Faktor berikutnya adalah diorientasi identitas diri. Menurut dr. Fikri, pihak yang berperan membentuk karakter identitas diri seorang anak adalah ayah. Jadi, salah satu penyebab adanya LGBTQ adalah maraknya fatherless.
Karena itu, dr. Fikri mengingatkan pentingnya didikan para ayah. Ayah pun perlu memberi arahan tegas dengan tetap memberi kasih sayang kepada anaknya.

Selain faktor biologis, isu mengenai peran lingkungan sosial dalam perkembangan LGBTQ juga kerap menjadi perbincangan. Dokter Bahrun Mubarok, M.Si berpendapat bahwa lingkungan tempat anak tumbuh, termasuk pola interaksi dengan keluarga dan teman sebaya, dapat memengaruhi proses pembentukan identitas diri.
Menurut dr. Bahrun, anak laki-laki yang lebih sering berinteraksi dengan teman perempuan atau cenderung menghindari teman laki-laki sebayanya perlu mendapat perhatian dari orangtua. Ia menilai peran ayah di rumah dan lingkungan pergaulan di luar rumah turut berkontribusi dalam pembentukan karakter maskulin seorang anak.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.