JAKARTA - Menjadi orangtua adalah sebuah anugerah, meski terkadang banyak tantangannya. Apalagi kalau anak sedang tantrum padahal sedang buru-buru, rasanya pasti ingin mengeluarkan emosi.
Belakangan ini, pendekatan gentle parenting makin populer karena dinilai sangat baik untuk mental dan perkembangan emosional anak. Tapi, apa sebenarnya pola asuh ini dan bagaimana cara kerjanya?
Melansir Cleveland Clinic, Dokter Spesialis Anak Karen Estrella mengatakan, gentle parenting adalah pola asuh yang bertujuan membesarkan anak yang percaya diri, mandiri, dan bahagia. Kuncinya ada pada empat hal: empati, rasa hormat, pengertian, dan batasan yang sehat.
Jika pola asuh tradisional berfokus pada reward and punishment (hadiah dan hukuman), gentle parenting mengajak orangtua untuk tidak mengancam atau meneriaki si kecil agar berhenti karena takut saat mereka berulah. Sebaliknya, orangtua justru membantu mereka memahami mengapa perilaku tersebut salah agar mereka punya kesadaran diri yang baik.
Pola asuh ini tak bisa langsung mengubah anak secara kilat. Dengan pola asuh seperti ini otomatis anak perlahan belajar bagaimana tindakan mereka berdampak pada perasaan orang lain karena orangtua sering mendiskusikan emosi dengan mereka.
Selain itu, dampak positif dari pola asuh ini juga penting, karena orangtua membimbing anak mencari solusi. Anak jadi tahu bahwa meskipun ada masalah, mereka bisa menyelesaikannya dengan dukunganmu.
Namun, tantangan gentle parenting pun butuh banyak waktu dan kesabaran. Orangtua harus sering meluangkan waktu untuk berdialog dan menyelami emosi anak. Ini bisa sangat melelahkan, terutama kalau orang tua bekerja penuh waktu.
Tak hanya itu, orangtua juga harus mengubah kebiasaan. Mungkin orangtua dulu mendidik dengan cara VOC, namun ketika punya anak tak bisa membiarkan kebiasaan tersebut menjadi pola asuh.
Sebuah mitos berkata, gentle parenting membuat anak jadi ngelunjak, karena orangtua dianggap sebagai teman yang terlalu membebaskan. Padahal kenyataannya tak begitu. Orangtua tetap figur otoritas yang membuat aturan, namun anak patuh karena rasa hormat dan pemahaman, bukan karena takut dihukum.
Menerapkan gentle parenting itu penuh dengan trial and error. Wajar kalau hari ini Mom dan Dad masih sering kelepasan marah. Itu namanya proses. Yang penting gentle parenting itu penting saat anak berbuat kesalahan. Teruslah berlatih mengevaluasi diri demi masa depan emosional anak yang lebih sehat.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.