JAKARTA - Nyeri saat berhubungan intim setelah melahirkan sering kali dianggap sebagai hal yang wajar dan akan hilang dengan sendirinya. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda vaginismus sekunder, gangguan yang membuat otot di sekitar vagina berkontraksi secara tidak sadar sehingga penetrasi terasa sulit atau menyakitkan.
Gangguan dasar panggul atau pelvic floor dysfunction (PFD) yang sering dikenal masyarakat dengan istilah turun berok ternyata tidak hanya menyebabkan masalah seperti beser atau sulit menahan buang air kecil. Salah satu keluhan yang juga kerap terjadi setelah melahirkan adalah vaginismus sekunder.
Kondisi ini membuat seseorang sulit melakukan hubungan intim karena mengalami nyeri saat penetrasi. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Bamed, dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari, Sp.OG., FAUCICOG., MM., MARS, mengungkapkan banyak perempuan mengira gangguan dasar panggul pascapersalinan hanya berkaitan dengan masalah beser.
Namun, menurut dr. Yeni, kondisi tersebut juga dapat berdampak pada kehidupan seksual pasangan. Ia menjelaskan bahwa salah satu masalah yang paling sering ditemukan setelah persalinan justru vaginismus sekunder.
"Kalau gangguan dasar panggul pascamelahirkan yang paling sering justru terjadinya vaginismus sekunder, atau tidak bisa penetrasi maupun tidak bisa berhubungan intim setelah melahirkan," ujarnya dalam Seminar Media Comprehensive Aesthetic and Wellness Bamed, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari masalah psikologis, gangguan pada organ reproduksi, hingga perubahan hormonal setelah melahirkan.
Dr. Yeni mengatakan, jika penyebabnya berasal dari faktor psikologis, pasien biasanya akan dianjurkan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Sementara itu, dari sisi organ reproduksi, nyeri saat berhubungan intim juga bisa muncul akibat bekas luka jahitan persalinan yang belum pulih sepenuhnya.
"Apakah ada bekas jahitan pada jalan lahir yang menyebabkan penetrasi menjadi sulit atau menimbulkan nyeri saat berhubungan seksual sehingga pasien akhirnya menghindari hubungan seksual," jelasnya.
Selain luka pascamelahirkan, proses menyusui juga berperan penting. Selama masa laktasi, tubuh memproduksi hormon prolaktin dalam jumlah tinggi yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi perempuan.
Akibatnya, sebagian ibu mengalami gangguan siklus menstruasi hingga penurunan kenyamanan saat berhubungan intim. Dr. Yeni juga menekankan bahwa gangguan dasar panggul tidak selalu berarti otot menjadi lemah atau kendur.
Justru dalam beberapa kasus, otot dasar panggul bisa terlalu tegang sehingga menimbulkan rasa sakit.
"Gangguan di sini tidak hanya karena otot kendur, tetapi juga bisa karena terlalu tegang. Keduanya sama-sama tidak baik. Kontraksi yang berlebihan tidak bagus, begitu juga jika kontraksinya kurang," katanya.
Gejala gangguan dasar panggul tidak hanya ditandai dengan nyeri saat berhubungan intim. Kondisi ini juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di perut bagian bawah, sensasi berat pada area panggul, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Karena itu, dr. Yeni mengingatkan pentingnya pemulihan tubuh setelah melahirkan sebelum merencanakan kehamilan berikutnya. Ia menyarankan para ibu untuk fokus terlebih dahulu pada pemulihan dasar panggul melalui asupan nutrisi yang baik, istirahat yang cukup, serta latihan otot yang tepat.
"Jadi memang setelah hamil dan melahirkan, perbaiki dulu kondisi tubuhnya sebelum merencanakan kehamilan berikutnya," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.