JAKARTA – Mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Perdagangan di tengah lingkungan kerja yang selama ini didominasi oleh kaum laki-laki menjadi tantangan tersendiri bagi Dyah Roro Esti Widya Putri. Ia tidak menampik bahwa dalam banyak kesempatan, posisi perempuan di ranah politik maupun sektor strategis lainnya sering kali menjadi minoritas.
Namun, alih-alih merasa terbatasi, Dyah Roro justru melihat hal tersebut sebagai ruang untuk memberi makna lebih pada setiap tugas yang ia jalankan. Menurutnya, esensi dari sebuah pekerjaan bukan terletak pada siapa yang mendominasi, melainkan pada kemanfaatannya bagi orang banyak.

"Tantangan di tengah dominasi laki-laki dalam bidang pekerjaan tentu banyak sekali ya, dalam arti kata kita sebagai kalau misalnya di ranah politik sebagai minoritas, terkadang di sektor-sektor lain juga sebagai minoritas," ungkap Dyah di momen talkshow dalam Women's Inspiration Awards yang berlangsung di Jakarta Concert Hall, iNews Tower, Kamis 30 April 2026.
Meski menyadari posisi tersebut, Diah memiliki prinsip kuat dalam menjalankan perannya di dunia pemerintahan.
"Tapi kembali lagi bahwa apa pun yang kita kerjakan tergantung kita, bagaimana kita memaknainya, bagaimana kita memanfaatkannya untuk kepentingan masyarakat gitu," kata dia.
Di bawah visi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Dyah Roro bersama para perempuan Wakil Menteri lainnya membawa misi untuk membuktikan kontribusi nyata kaum hawa dalam memperkuat ekonomi nasional. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab data di Kementerian Perdagangan menunjukkan betapa besarnya ketergantungan ekonomi Indonesia pada tangan dingin perempuan.
Ia memaparkan bahwa sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah tulang punggung yang digerakkan oleh mayoritas perempuan.
"Jadi kalau misalnya di Kementerian Perdagangan dan relevansinya terhadap perempuan adalah ternyata 64,5% dari pelaku usaha UMKM adalah perempuan. Dan you know, we contribute so much terhadap pertumbuhan ekonomi nasional kita," jelasnya.
Pengalaman turun langsung ke berbagai daerah semakin membuka matanya. Dyah Roro mengaku sangat menikmati setiap momen bertemu dan mendengar langsung cerita dari para pelaku usaha di lapangan. Baginya, setiap produk UMKM yang dihasilkan bukan sekadar barang dagangan, melainkan kristalisasi dari kerja keras dan perjuangan melawan batasan sosial.
Ia menyadari bahwa di balik keberhasilan sebuah produk, ada keringat dan mental baja para ibu yang harus mendobrak pandangan miring di lingkungannya. "Jadi dari situlah kita betul-betul bisa memaknai, merasakan bahwa di balik figur bahwa ternyata mayoritas adalah perempuan pelaku usahanya, tapi di balik semua itu ada kerja keras yang tentunya harus mereka lakukan. Ada stigma-stigma yang mungkin mereka harus they have to break the stigma begitu dan mereka harus bekerja keras," tuturnya.