Dokter Wilson menegaskan bahwa waktu adalah segalanya dalam menghadapi serangan jantung.
“Semakin cepat Anda tiba di rumah sakit, semakin besar peluang Anda untuk selamat. Tim medis akan ambil alih setelah itu,” katanya.
Ia mengakui bahwa dirinya sangat beruntung. Jika saja ia menunggu lebih lama, hasilnya bisa jauh berbeda.
“Saya beruntung masih hidup,” katanya.
Apa yang dialami Dr. Wilson menjadi pengingat penting bahwa gejala serangan jantung tidak selalu dramatis seperti di film, tidak selalu berupa nyeri dada tajam atau pingsan mendadak. Kadang hanya berupa rasa tidak nyaman, keringat berlebih, mual, atau perasaan cemas luar biasa.
Badan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) mencatat beberapa gejala serangan jantung antara lain:
- Nyeri atau tekanan di dada
- Rasa tidak nyaman yang menjalar ke lengan, punggung, rahang, atau perut
- Sesak napas
- Keringat dingin
- Mual atau muntah
- Rasa seperti mau pingsan
- Kecemasan intens atau perasaan akan mati.
Kisah Dr. Wilson juga terjadi di tengah tren yang mengkhawatirkan. Di banyak negara, termasuk Indonesia, serangan jantung kini mulai menyerang kelompok usia yang lebih muda. Penyebabnya? Pola makan buruk, stres kronis, kurang olahraga, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan.
Menurut data American Heart Association, di Amerika Serikat saja, seseorang mengalami serangan jantung setiap 40 detik, dan lebih dari 800.000 kasus terjadi setiap tahun. Sementara di Inggris, diperkirakan 270 orang dirawat karena serangan jantung setiap harinya.
Kini, Dr. Wilson menggunakan kisahnya untuk mengedukasi publik. Ia mengaku, jika bukan karena dukungan cepat dari istrinya dan penanganan medis yang tepat waktu, ia mungkin tidak selamat.
“Saya tahu semua teori, tapi tetap saja saya menyangkal kenyataannya. Itu adalah kesalahan besar. Jangan ulangi kesalahan saya. Dengarkan tubuh Anda. Bertindaklah cepat,” tutupnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)