PADA awal tahun 2000-an, tren mukbang sudah ada dan berkembang di Korea Selatan. Kata mukbang berasal dari 'meokneun' dan 'bangsong', yang 'siaran makan'.
Pada dasarnya, mukbang menampilkan seorang konten kreator yang sedang makan di depan kamera dengan jumlah besar. Konten kreator atau mukbanger ini membuat video streaming sambil menikmati makanan dan berinteraksi dengan penonton.
Dibalik trennya yang semakin berkembang, terutama di Indonesia, ternyata ada dampak bahaya dari mukbang lho. Mulai dari beban mental, keterikatan emosional, hingga bahaya fisik akibat makan berlebihan, ada beberapa risiko khusus yang perlu diwaspadai.
Bahaya mukbang sendiri tidak hanya dialami oleh konten kreator, tapi juga para penonton yang melakukan interaksi dalam video streaming itu. Lantas apa saja bahaya mukbang seperti dilansir dari BistroMD, Minggu (28/7/2024).
1. Mempopulerkan cara makan yang buruk
Meskipun konten kreator mukbang itu memiliki perilaku makan yang normal, sebagian lagi makan dengan cara yang buruk. Misalnya dalam mengunyah, cara makan yang menjijikan, ekstrem, rakus, berantakan, hingga menyeruput. Beberapa cara makan itu menyimpang dari tata krama di meja makan.
2. Memiliki motif tersembunyi
Beberapa konten kreator membuat konten mukbang untuk mempromosikan makanan. Mereka mempromosikan dengan sangat baik sehingga penonton merasa tergiur untuk membeli. Padahal bisa jadi makanan yang direkomendasikan itu rendah gizi yang bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan bisa dikonsumsi secara rutin.
3. Bikin kecanduan
Baik yang membuat konten maupun yang menonton, mereka berisiko melakukan interaksi yang tidak terkendali sehingga menjadi kecanduan. Meskipun awalnya menghibur, konten ini berisiko memperburuk kesehatan mental. Kondisi ini bisa terjadi pada penonton yang masih di usia muda.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.