Penelitian ini telah dilakukan sebanyak dua jenis, yang pertama mengukur aktivitas otak hidup selama proses kematian pada manusia. Kemudian dia juga mengamati perubahan yang terjadi di osilasi gamma pada tikus.
Hal ini artinya ada kemungkinan ketika meninggal, otak masih tetap bisa mengatur serta menjalankan respon biologisnya, dengan memutar memori penting yang paling melekat di ingatannya selama beberapa waktu tertentu.
“Saya pikir jika kita tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi di otak mereka, bahwa mereka mengingat momen-momen indah, meski sudah meninggal. Kita dapat memberi tahu keluarga-keluarga dan itu membangun perasaan hangat bahwa pada saat mereka terjatuh, ini bisa sedikit membantu untuk kembali bangkit,” katanya.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.