Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Fenomena Revenge Travel Mulai Redup, Sandiaga Prediksi Pariwisata Pulih Sepenuhnya 2025

Syifa Fauziah , Jurnalis-Rabu, 20 Maret 2024 |08:52 WIB
Fenomena <i>Revenge Travel</i> Mulai Redup, Sandiaga Prediksi Pariwisata Pulih Sepenuhnya 2025
Menparekraf RI, Sandiaga Salahuddin Uno (Foto: dok. Kemenparekraf)
A
A
A

MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno memprediksi fenomena revenge travel akan redup pada 2024 ini.

Revenge travel atau wisata balas dendam ialah tren wisata yang dilakukan secara masif oleh wisatawan akibat perjalanan mereka sebelumnya tertunda akibat pandemi Covid-19.

"Jadi kalau kita sempat terkena pandemi dan akhirnya banyak yang balas dendam untuk traveling di tahun 2022 atau 2023, tahun ini akan menurun drastis. Diproyeksikan perkembangan dan pola dari industri pariwisata akan kembali normal seperti sebelum pandemi," ungkap Sandiaga.

Meski akan kembali normal, Sandi meyakini tetap ada sejumlah tantangan yang dihadapi pariwisata global. Di antaranya adalah isu-isu terkait dengan geopolitik, perlambatan ekonomi atau inflasi, dan juga masalah mengenai staff shortage (manajemen sumber daya manusia).

"Industri pariwisata diperkirakan baru akan sepenuhnya pulih pada tahun 2025," imbuhnya.

Dari ITB Berlin Convention 2024 juga didapat insight lainnya, seperti penggunaan teknologi dalam industri pariwisata yang semakin meningkat.

Infografis Keuntungan Liburan saat Low Season

Berdasarkan data, sebanyak 38 persen wisatawan global berencana melakukan perjalanan wisata yang konsepnya once in a lifetime atau sekali seumur hidup di tahun 2024. Kemudian 77 persen wisatawan global akan melakukan planning, booking, dan dreaming secara digital.

Tren teknologi di pariwisata juga semakin meningkat di mana 48 persen wisatawan mencari destinasi melalui perangkat mobile phone, 47 persen mencari penerbangan melalui aplikasi, 40 persen melakukan pemesanan melalui mobile phone, dan 22 persen wisatawan sudah menggunakan artificial intelligence atau chatbot dalam perencanaan wisata.

Media sosial juga menjadi inspirasi utama wisatawan global untuk berwisata. Sebanyak 40 persen wisatawan global menjadikan YouTube sebagai sumber sumber inspirasi untuk berwisata, 35 persen terinspirasi dari mulut ke mulut (word of mouth), dan 33 persen terinspirasi dari Instagram (sosial media).

"Digitalisasi ini sangat berdampak pada keputusan wisatawan untuk bepergian. Jadi ini luar biasa, sosial media juga bisa menjadi inspirasi utama. Maka destinasi juga sektor transportasi harus memerhatikan ini dengan baik," kata Sandiaga.

Terkait pasar Tiongkok, tahun ini diperkirakan 100 juta warga Tiongkok siap melakukan perjalanan wisata khususnya perjalanan jauh long haul. Wisata cruise menjadi salah satu yang diperkirakan akan banyak diminati wisatawan Tiongkok.

"Tapi ini jadi tantangan kita, karena Indonesia masih menerapkan visa policy yang belum membuka, sementara negara tetangga sudah membuka. Kita juga belum memenuhi kuota penerbangan langsung yang cukup. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menarik wisatawan dari Tiongkok," paparnya.

Infografis Tips Traveling Hemat Antiboncos

Tren kunci di 2024 secara umum lanjut Sandi,ialah pasar Asia semakin berkembang, mereka akan datang dalam small group dan lebih memilih mengunjungi dan beraktivitas wisata luar ruang seperti ke pantai hingga mengunjungi situs budaya dan sejarah.

"Data-data ini harus dapat kita manfaatkan. Kita harus menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya," ujarnya memungkasi.

(Rizka Diputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement