BEBERAPA waktu lalu, mantan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Rizal Ramli meninggal dunia akibat mengidap kanker pankreas stadium 4. Beliau telah menjalani perawatan di rumah sakit selama hampir dua bulan sebelum meninggal dunia.
Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Profesor Zubairi Djoerban, kanker pankreas biasanya memang terdiagnosis ketika sudah berada di stadium akhir. Sebab, gejalanya relatif yang tidak bisa terlihat. Untuk itu, pada saat ditangani kebanyakan pasien mengalami keterlambatan.
“Selain gejala, letak anatomi pankreas yang khusus juga menyebabkan kanker terdiagnosis di stadium akhir. Oleh karena itu, kanker pankreas disebut juga silent killer,” kata Profesor Zubairi, dikutip dalam akun X miliknya @ProfesorZubairi, Minggu (7/1/2024).
Lantas mengapa kanker pankreas lebih cepat tingkatkan risiko kematian?

Profesor Zubairi mengatakan dimulai dengan adanya tumor dengan ukuran yang signifikan, biasanya pada saat itu kemungkinan besar penyakit sudah bermetastasis atau menyebar di dalam tubuh, terlebih ditambah adanya gejala seperti penurunan berat badan, sakit perut, atau penyakit kuning, gejala lainnya yang mungkin dapat semakin memperparah keadaan seperti mual, muntah, diare, nyeri ulu hati, dan sakit punggung.
Sehingga pada saat menjalani operasi, tidak menutup kemungkinan prediksi buruk pun akan muncul, karena kambuhnya kanker pankreas mencapai 85 Persen. Operasi pankreas sendiri dilakukan dengan mengambil 95 Persen pankreas termasuk tumor, adanya gagal hati bisa menyebabkan pasien meninggal karena hati sudah diambil alih oleh tumor.
“Paling tidak ada 25-30 Persen pasien dapat menjalani hidup hingga lima tahun kedepan setelah operasi,” ucap Profesor Zubairi.