MUSEUM dan Cagar Budaya unit Galeri Nasional Indonesia di Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat kembali mengadakan pameran bertajuk ‘Seni Rupa Indonesia Kini: Pascamasa’. Berlangsung hingga 20 Januari 2024, pameran ini menjadi pilihan buat mengisi libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2024.
Kurator pameran, Rizki A. Zaelani, A. Rikrik Kusmara, Sudjud Dartanto, dan Bayu Genia Krishbie memilih tema “Pascamasa” untuk merespons perkembangan terkini dari wacana kebudayaan.
Tentunya bertaut pada isu tentang ‘pasca’ yang menjelaskan masalah-masalah era kesudahan, seperti pascaindustrial, pascamodernisme, pascakebenaran, dan lainnya.
Pembukaan pameran ini berlangsung, Rabu (20/12/2023) di Plaza Gedung A Galeri Nasional Indonesia, dengan penampilan spesial dari Goodnight Electric.
BACA JUGA:
Pameran seni rupa ini akan menampilkan karya-karya termutakhir dari 12 peserta pameran.
Mulai dari Arafura, Arkiv Vilmansa, Azizi Al Majid, Condro Priyoaji, Franziska Fennert, Irfan Hendrian, Iwan Yusuf, Meliantha Muliawan, Nesar Eesar, Nona Yoanisarah, Tomy Herseta, dan Sikukeluang.

Pemilihan ke-12 perupa ini tentu bukan tanpa alasan. Salah satunya yakni karena keragaman praktik dan latar belakang disiplin pada perupa yang menunjukkan berbagai gejala lintas disiplin sebagai wajah dari perkembangan seni rupa Indonesia terkini.
Misalnya, Tomy Herseta dengan latar belakang akademis desain interior, ia berfokus pada suara dan cahaya dalam karya yang dibawanya di pameran kali ini.
Lalu, Arafura yang digawangi anak-anak muda berlatar Desain Komunikasi Visual justru mengeksplorasi motion graphic dan proyeksi cahaya.
BACA JUGA:
Sementara, Arkiv Vilmansa yang menempuh pendidikan arsitektur, kemudian menekuni penciptaan karya seni rupa yang identik dengan produk mainan atau toys art.
Irisan antara seni dan teknologi juga dapat dilihat pada karya Nona Yoanishara yang mengembangkan hubungan antara kesadaran manusia dan memori melalui Brain Computer Interfaces (BCI).

Di samping menampilkan praktik interdisipliner, “Pascamasa” juga menampilkan karya-karya perupa muda yang bergulat pada persoalan bentuk atau form.
Misalnya, Irfan Hendrian yang memamerkan karya dari material kertas yang disusun menjadi trimatra layaknya patung.
Sementara itu Iwan Yusuf, perupa asal Gorontalo ini mengangkat isu mengenai alam dan narasi pesisir dengan karya berukuran gigantik dari material jaring.
BACA JUGA:
Ungkapan artistik dari seniman peserta juga muncul dalam tema-tema lainnya seperti identitas, keseharian, domestik, serta isu lingkungan.

Pameran ‘Seni Rupa Indonesia Kini: Pascamasa’dapat dikunjungi publik mulai 21 Desember 2023 hingga 20 Januari 2024, setiap hari pukul 09.00 - 19.00 WIB.
Pengunjung wajib melakukan registrasi secara daring (online) terlebih dulu melalui https://gni.kemdikbud.go.id/kunjungi-kami.
Untuk menjaga keamanan karya dan kenyamanan dalam ruang pamer, diberlakukan pembagian kuota pengunjung yakni 150 orang per sesi, dan dalam satu hari dibagi ke dalam 10 sesi kunjungan.