Ia pun mencontohkan hal yang sering terjadi di kalangan orangtua dan anak-anak masa kini. Kebanyakan orangtua memanjakan anak dengan mengerjakan tugas-tugas sekolah sang anak. Padahal, tugas sekolah merupakan kewajiban si anak.
"Secara tidak sadar itu sedang memapar mengkontaminasikan anak budaya koruptif. Kalau itu tugas anak, ya anak yang mengerjakan, bukan kita (orangtua)," kata Siti Atikoh.
"Kalau mereka tidak mengerjakan, mereka mendapat hukuman dari sekolah. Ya enggak apa-apa karena mereka bersalah. Jadi anak tahu kalau saya tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, ada feedback ke saya," lanjutnya.
Siti Atikoh pun berpesan agar orangtua mengenalkan hak dan kewajiban anak di tempat umum. Misalnya, bangku prioritas di transportasi umum. Ketika masih anak-anak, bangku tersebut boleh saja diduduki oleh si anak. Namun, ketika tumbuh remaja dan dewasa, bangku prioritas bukan lagi untuknya.
Ada pun contoh lainnya yakni mengajarkan anak untuk tepat waktu. Siti Atikoh menyebutkan, orang yang terlambat merupakan tindakan melakukan korupsi, yakni korupsi waktu.