SEEKOR tikus berbulu emas (golden mole) yang dianggap punah sejak 1936, kembali ditemukan di bukit pasir Afrika Selatan. Tikus berbulu emas ini ditemukan oleh Endangered Wildlife Trust (EWT) dan Universitas Pretoria setelah 80 tahun menghilang.
Penemuan ini bukan tugas mudah karena tikus tanah ini hidup di bawah tanah.
“Sangat sulit untuk memahami mereka karena mereka menghabiskan sebagian besar hidup mereka di bawah tanah,” kata Chobus Theron, manajer konservasi senior di Endangered Wildlife Trust dan pemimpin ekspedisi seperti dilansir dari The Washington Post, Rabu (6/12/2023).
“Mereka memiliki otot perut yang luar biasa dan memiliki lengan seperti pedal yang sangat kuat untuk bergerak melewati pasir. Mereka sepenuhnya mengandalkan pendengaran untuk berburu sehingga mereka harus memiliki pendengaran sensori yang luar biasa,” tambahnya.
BACA JUGA:
Peneliti menemukan tikus berbulu emas ini menggunakan eDNA. Mereka mengumpulkan sampel pasir di sepanjang pantai dan bukit pasir di pantai barat laut Afrika Selatan. Kemudian, sampel tersebut disaring di laboratorium untuk mengosilasi eDNA.
Untuk membedakan tikus tanah berbulu emas dengan tikus tanah lainnya, tim menggunakan sampel yang telah disimpan oleh museum Afrika Selatan selama beberapa dekade.
Setelah peneliti membandingkan urutan eDNA mereka dengan sampel, hasilnya ternyata cocok dengan tikus berbulu emas De Winton.
“Menurut saya, ini adalah sesuatu yang bisa mengubah permainan. Jika teknik ini dapat menemukan tikus tanah berbulu emas De Winton, kita dapat menggunakannya untuk tikus tanah manapun,” kata Theron.
BACA JUGA:
Melansir New York Post, Mamalia Afrika Selatan ini merupakan spesies hilang kesebelas yang paling dicari di dunia dan ditemukan kembali sejak Search for Lost Species Re:wild diluncurkan pada tahun 2017.
Menurut EWT, tikus tanah berbulu emas ini adalah penggali yang terampil dengan pendengaran sensitif yang memungkinkan mereka mendeteksi getaran dan gerakan permukaan. Tidak seperti mamalia penggali lainnya, mereka tidak meninggalkan terowongan yang terlihat saat bergerak di bawah pasir.
“Mengekstraksi DNA dari tanah bukannya tanpa tantangan, namun kami telah mengasah keterampilan dan menyempurnakan teknik kami, bahkan sebelum adanya proyek ini dan kami cukup yakin bahwa tikus tanah emas De Winton ada di lingkungan, kami akan mampu mendeteksinya dengan menemukan dan mengurutkan DNA-nya,” kata Samantha Mynhardt, ahli genetika konservasi di Endangered Wildlife Trust (EWT) dan Stellenbosch University.
Sejak ekspedisi dimulai, EWT telah mengidentifikasi empat populasi tambahan tikus berbulu emas De Winton.
Pada 24 November 2023, penemuan tikus berbulu emas ini telah dipublikasikan di jurnal Biodiversity and Conservation.
(Salman Mardira)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.