Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kental Mitos Pesugihan, Begini Asal-usul Pesarean Gunung Kawi yang Bernuansa Tionghoa

Avirista Midaada , Jurnalis-Jum'at, 20 Oktober 2023 |12:02 WIB
Kental Mitos Pesugihan, Begini Asal-usul Pesarean Gunung Kawi yang Bernuansa Tionghoa
Pesarean Gunung Kawi yang kental mitos pesugihan (Foto: MPI/Avirista Midaada)
A
A
A

GUNUNG Kawi Malang menjadi salah satu lokasi wisata religi. Di sana terdapat dua wisata religi yakni Keraton Gunung Kawi dan Pesarean Gunung Kawi. Dua wisata ini berbeda lokasi, meski masih berada di satu kawasan yang berdekatan.

Keraton Gunung Kawi berada di wilayah Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, sedangkan Pesarean Gunung Kawi berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, keduanya bagian dari Kabupaten Malang. Selain perbedaan lokasi wisatanya, status kepemilikan tanahnya juga berbeda.

Keraton Gunung Kawi berada di tanah milik Perhutani yang dikelola oleh desa dan Perhutani. Hasilnya mereka membagi keuntungan dari penjualan tiket masuk dengan Perhutani. Sedangkan di Pesarean Gunung Kawi, merupakan wisata religi yang dikelola oleh Yayasan Ngesti Gondo.

Secara penataan kawasan pun berbeda, karena Pesarean Gunung Kawi merupakan kepemilikan yayasan, dan tidak di tanah Perhutani, aspek penataan kawasan diperhatikan sedemikian rupa. Tak heran ketika anda berkunjung masuk, terdapat puluhan stan pedagang dari warga sekitar menjajakan dagangannya.

Pesarean Gunung Kawi

(Foto: MPI/Avirista Midaada)

Mendekati area pintu masuk, pengunjung akan disuguhkan dengan bangunan klenteng yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah umat Konghucu. Terdapat juga Ciam Si yang dalam tradisi Tionghoa merupakan ramalan ala China yang ada di setiap klenteng.

Klenteng ini berada di luar area pesarean atau makam, tetapi masih berada pada satu kompleks. Pengunjung atau wisatawan dibebaskan berfoto-foto dengan latar belakang klenteng dan sensasi burung daranya. Suasana ala seperti di Asia Timur begitu terasa di kawasan klenteng ini.

Tak jauh dari klenteng terdapat beberapa loket pendaftaran pesarean berupa syukuran dan nazar. Di loket ini terlihat nominal bagi pengunjung yang mau syukuran mulai dari Rp110 ribu yakni syukuran ayam besek, hingga Rp17 juta berupa korban syukuran satu ekor sapi.

Perpaduan arsitek bangunan Jawa dan China begitu terlihat di kompleks Pesarean Gunung Kawi. Hal ini diperkuat dengan relief-relief di gerbang ikonik pesarean, yang menggambarkan kisah Eyang Jugo, tokoh yang dimakamkan di sini.

Pesarean Gunung Kawi

(Foto: MPI/Avirista Midaada)

Kadir, salah satu pemandu wisata Pesarean Gunung Kawi mengakui, mitos pesugihan berkembang di Gunung Kawi, tetapi ia menegaskan di Pesarean Gunung Kawi bukanlah merupakan tempatnya. Makanya ia selaku pemandu wisata juga memberikan penjelasan informasi secara detail ke wisatawan yang berkunjung.

"Kadang-kadang saya kasih penjelasan, karena terkenalnya di sini ini pesugihan, biar nggak salah persepsi. Banyak yang salah persepsi karena di medsos Gunung Kawi ini, katanya menyimpan harta karun, yang tuyul, demit, setan, ini mencoba untuk menjelaskan tidak begitu," ucap Kadir kepada MPI.

Ia menjelaskan, bila kompleks pesarean ini merupakan makam satu tokoh asal Keraton Yogyakarta bernama Eyang Jugo atau yang bernama asli Kiai Zakaria. Ia berasal dari daerah Kesamben, Kabupaten Blitar, yang berlokasi tak jauh dari kawasan Gunung Kawi.

"Eyang jugo ini awalnya Kyai Zakaria namanya, dari Desa Kesamben Blitar, makanya Mbah Jugo mbabad alas di sana. Beliau meninggal berwasiat dimakamkan di sini di lereng Gunung Kawi," ujarnya.

Sosok Eyang Jugo dikenal konon memiliki hubungan keluarga dengan Pangeran Diponegoro. Kendati hal ini belum bisa dibuktikan kebenarannya, tetapi masyarakat sekitar meyakini Kiai Zakaria merupakan cucu dari Pangeran Diponegoro, atau mereka menyebutnya Eyang Diponegoro.

Pesarean Gunung Kawi

(Foto: MPI/Avirista Midaada)

"Aslinya Keraton Jogja. Eyang Jugonya, Kiai Zakaria cucunya Eyang Diponegoro. Dimakamkan di sini, digotong dari Kesamben ke sini, di relief pintu masuk itu digambarkan perjalanannya," tuturnya.

Sebagai tokoh penyebar agama Islam kata Munir, Eyang Jugo konon memiliki anak angkat bernama Raden Juned. Sosoknya merupakan pria keturunan Tionghoa, yang akhirnya berhasil diajak masuk Islam oleh Eyang Jugo. Ketaatannya kepada Eyang Jugo membuat Imam Sujono diangkat menjadi anak angkat, dan mengganti namanya dengan Raden Mas Imam Sujono.

"Eyang Sujono ini anak angkat, anak keturunan Tionghoa masuk Islam kemudian namanya Imam Sujono, muridnya Mbak Eyang Joko tidak ada hubungan kekeluargaan. Anak angkat tidak punya saudara tidak punya anak," jelasnya.

Sebagai bentuk penghormatan kepada kedua leluhur inilah, pesarean dibangun pada 1871. Gerbang megah di kompleks masuk pemakaman menjadi buktinya.

Sayang wisata di makamnya tidak dibuka setiap jam. Pengunjung hanya diizinkan masuk ke dalam pesarean pada pukul 07.30-11.00 WIB, dilanjutkan pukul 13.30-16.00 WIB, dan malam hari pukul 19.30-22.00 WIB.

"Biasanya kalau ramai-ramainya itu malam Jumat legi ke sini, terus malam satu suro, natalan, tahun baru (Imlek), hari raya," bebernya.

Pesarean Gunung Kawi

(Foto: MPI/Avirista Midaada)

Dirinya menambahkan, perpaduan antara wisata religi, budaya, dan sejarah menjadikan Pesarean Gunung Kawi kerap kali dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.

Bahkan tak sedikit wisatawan mancanegara disebut Kadir, berdatangan untuk sekedar datang ke klenteng dan penasaran dengan klenteng yang dibangun oleh salah satu pengusaha dan orang terkaya di Indonesia.

"Wisatawan banyak, ada yang dari luar negeri Singapura, Taiwan, Malaysia, Hongkong, banyak di sini mancanegara sudah," kata dia.

(Rizka Diputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement