AIR mata muncul ketika kita berduka, senang, tertawa bahkan ketika memotong bawang. Air mata memang menjadi bentuk untuk mengungkapkan perasaan kita.
Anda mungkin menganggap air mata hanya sebagai air mata. Tapi, ternyata ada tiga jenis air mata yang berbeda, yang komposisinya berbeda-beda loh.
Daniela Oehring, profesor optometri di University of Plymouth di Inggris, mengatakan kita mungkin paling akrab dengan air mata emosional yang diteteskan orang saat sedih setelah putus cinta atau saat gembira ketika bertemu dengan seorang teman setelah bertahun-tahun berpisah.
Namun, manusia memproduksi dua jenis air mata lainnya: air mata basal, yang melindungi mata, menyuplai jaringan dengan nutrisi, dan membuang kotoran. Serta, air mata refleks, yang diproduksi sebagai respons terhadap iritasi, seperti asap atau bahan kimia yang dilepaskan saat Anda memotong bawang.
Air mata basal memiliki banyak ion garam dan elektrolit lainnya, serta protein dengan sifat antimikroba. Protein-protein ini termasuk lipocalin, yang mengikat dan mengganggu senyawa tertentu dalam mikroba, dan lisozim, enzim yang membunuh bakteri dengan memecah dinding sel mereka.
Sebaliknya, air mata refleks dan emosional memiliki kandungan air yang lebih tinggi, serta konsentrasi lemak dan protein yang lebih rendah, daripada air mata basal. Beberapa ilmuwan telah melaporkan bahwa dibandingkan dengan air mata refleks, air mata emosional membawa konsentrasi hormon yang lebih tinggi yang biasanya dilepaskan ketika tubuh sedang stres.
Menurut Oehring, manusia memproduksi sekira 1 hingga 4 mikroliter air mata per menit yang berarti rata-rata 1,44 hingga 5,76 mililiter per hari. Air mata ini terutama merupakan air mata basal, yang keluar secara konstan, bukan air mata emosional dan refleks yang dibuat sebagai respons terhadap rangsangan. Namun demikian, volume ini dapat bervariasi secara signifikan tergantung pada apa yang Anda lakukan.
"Jika Anda mengendarai sepeda, misalnya saja Anda memiliki udara yang tingkat penguapannya tinggi sehingga produksi air mata Anda pun berubah," kata dia seperti dilansir dari LiveScience.
"Jika Anda berada di ruang uap, maka produksi air mata Anda menurun, karena umumnya, tidak perlu memproduksi air," tambah dia.
Air mata mengalir dari mata melalui saluran air mata. Tetapi karena air mata emosional dan refleks biasanya keluar dalam bentuk banjir, bukan tetesan, air mata ini sering kali tumpah keluar dari mata dan tidak mengalir secara normal.
Seiring bertambahnya usia, kita juga menjadi lebih rentan mengalami kondisi ini, karena kelenjar air mata kita juga berhenti bekerja. Beberapa penyakit juga dapat meningkatkan kemungkinan mengalami mata kering, seperti sindrom Sjögren, suatu kondisi autoimun di mana sel-sel kekebalan tubuh merusak kelenjar air mata yang berfungsi melembapkan mata.
(Martin Bagya Kertiyasa)