POLUSI udara pada beberapa kota besar di Indonesia sangat berbahaya bagi kesehatan. Untuk itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI membuat strategi untuk menangani dampak polusi udara pada kesehatan masyarakat.
Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), FISR, FAPSR ditunjuk sebagai Ketua Penanggulangan Penyakit Respirasi Polusi Udara (PPRPU).
Setidaknya ada empat strategi untuk menangani dampak polusi, yaitu deteksi, penurunan risiko kesehatan, edukasi, dan adaptasi.
"Upaya kita melakukan deteksi lewat pantauan udara dan surveilans. Kita sudah melakukan pendataan ISPA ke rumah sakit dan puskesmas, kita lakukan secara berkala agar bisa melihat kondisinya seperti apa agar penatalaksanaan di masing-masih faskes bisa disupport," ujar Prof Agus dalam Media Briefing tentang Penanganan Dampak Polusi Udara Bagi Kesehatan Masyarakat di Kementerian Kesehatan, Selasa (29/8/2023).

Selain itu bisa juga dengan melakukan penurunan risiko kesehatan dengan peringatan dini atau early warning system dengan melakukan pemantauan udara dan juga peringatan apa yang dilakukan masyarakat secara periodik.
Dan juga melakukan adaptasi untuk menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat akibat penyakit yang muncul terkait polusi.
Dan strategi terakhir adalah melakukan edukasi dengan menerapkan protokol 6M 1S. Adapun protokol 6M 1S, sebagai berikut:
1. Memeriksa kualitas udara melalui aplikasi atau website
Menurut Prof Agus, memeriksa kualitas udara secara rutin harus dilakukan karena ketika kita beraktivitas di luar ruangan pastikan kualitas udara ini bagus sehingga bisa menentukan memakai masker atau tidak.
2. Mengurangi aktivitas luar ruangan
Selain itu juga tutup ventilasi di rumah, kantor, dan sekolah agar tidak ada polusi udara yang masuk. Dengan begitu polusi udara tidak masuk ke dalam ruangan.
3. Menggunakan penjernih udara dalam ruangan
Menurut riset, ketika kualitas udara di luar ruangan jelek bisa masuk ke ruangan, untuk itu dibutuhkan penggunaan penjernih udara. Penjernih udara di ruangan bisa alami dengan tanaman atau alat elektronik.
4. Menghindari sumber polusi
Kamu juga bisa menghindari polusi udara yang berasal dari industri, kendaraan, atau sumber polusi dari indoor terbanyak, yakni dari asap rokok.
5. Menggunakan masker saat polusi udara tinggi
Prof Agus juga menyarankan untuk menggunakan masker. Masker yang disarankan sendiri sebenarnya respirator, tapi respirator ini disarankan untuk orang-orang yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan lebih dari tiga jam, seperti penyapu jalan, polisi, dan lain sebagainya.
Kalau masyarakat berikan masker yang memiliki kemampuan filtrasi PM 2.5. Atau masker kain biasa juga bisa tapi diberi filter di dalamnya.
6. Melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat
Seperti diketahui, faktor eksternal bisa menyebabkan penyakit bila daya tahan tubuh tidak sehat. Oleh karena itu di dalam tubuh harus diperkuat dengan makan makanan sehat, istirahat cukup, minum cukup, tidak konsumsi alkohol, dan tidak merokok.
7. Segera konsultasi ke dokter
Dan 1S ini adalah upaya early detection dengan konsultasi ke dokter secara daring atau luring ketika mengalami keluhan gangguan pernapasan.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.